Hua Mulan (Bahasa Mandarin: mùlán berarti bunga magnolia) adalah seorang perempuan yang menyamar jadi laki-laki sebagai prajurit Tiongkok legendaris dari periode dinasti Utara dan Selatan (420–589). Ia berasal dari keluarga petani. Negara yang dibela Hua Mulan bukan suku Han, melainkan negara Wei Utara yang saat itu menguasai utara Tiongkok. Negara Wei Utara dikuasai suku kuno Xianbei yang berasal dari sekitar wilayah Korea sekarang ini.

Saat mendaftarkan diri menjadi tentara, Mulan sudah terampil dalam pertempuran. Ia diajarkan seni bela diri, pertempuran pedang dan memanah. Mulan bertugas di bawah kekuasaan Heshana Khan (603-619) dari Kekhanan Turk Barat. Ketika Khan setuju berperang dengan dinasti Tang yang ingin menaklukkan seluruh Tiongkok. Setelah dua belas tahun berperang, para tentara kembali dan mendapat penghargaan.

Mulan menolak sebuah pos resmi dan hanya meminta unta untuk membawanya pulang. Ia diberi izin melakukan perjalanan ke tanah airnya. Tidak lama, Khan memanggilnya ke istana untuk menjadi selir. Mulan menolak dan memilih melakukan bunuh diri. Kata-kata Mulan sebelum bunuh diri, “Saya seorang gadis, saya telah melalui perang dan telah melakukan banyak hal. Saya sekarang ingin bersama ayah saya.”

Kisah legendaris Mulan membuat Walt Disney tertarik untuk memfilmkannya. Kesediaan Mulan mengorbankan diri bagi sang ayah menjadi titik awal kisah legendarisnya. Tulisan ini tidak hendak mengulas film Mulan tapi tentang karakter yang diwakili oleh sosok Mulan. Selain Mulan, ada banyak film yang mengisahkan tokoh perempuan dengan kehebatannya masing-masing. Sebutlah Wonder Women dan Supergirl.

Selain Mulan, saya menyukai tokoh Tris di film Divergent dan Kathniss di film Hunger Game. Dapat dibilang saya jatuh cinta pada ketiga tokoh tersebut dan menyukai filmnya. Ketiganya mewakili sosok impian yang berani, ahli dan rela berkorban.

Seandainya ada Mulan di antara kita, mungkin kita akan menghadapi pertarungan yang berbeda. Tris, di film Divergent berani melompat dari ketinggian, berlari mengejar kereta lalu melompat masuk dan membongkar manipulasi atas kehidupan klan-nya selama puluhan tahun. Kathniss di film Hunger Games, mengorbankan diri menggantikan adiknya, bertarung dengan panah, yang ingin sekali saya pinjam untuk membidik bulan, melawan kediktatoran dan mencegah potensi diktator baru. Saya menyukai ketiga tokoh ini karena mereka perempuan yang memiliki keberanian, baik hati dan berjuang bukan untuk diri sendiri.

Perempuan dan Aksi Anti Kekerasan

Hingga saat ini, secara realita posisi kaum perempuan rentan dan terpinggirkan. Berada dibawah bayang-bayang ideologi patriarkhi yang mengakar kuat di masyarakat. Paparan data yang ada menunjukkan bahwa tingginya angka kekerasan terhadap perempuan merupakan fakta tak terbantahkan.

Banyaknya kaum perempuan yang menempati posisi publik tidak serta merta menghilangkan pola diskriminasi dan kekerasan. Ideologi patriarkhi berlaku inherent dalam segala segi kehidupan. Sosial, ekonomi, Politik dan budaya. Berbagai kelompok organisasi perempuan tanpa lelah melakukan kampanye keadilan gender dan memerangi kekerasan terhadap perempuan.

Contoh lain perlawanan perempuan terhadap kekerasan dapat dilihat dari film Bandit Queen (1994) yang didasarkan pada buku India’s Bandit Queen: The True Story of Phoolan Devi dari penulis India, Mala Sen. Seorang perempuan India yang menjadi korban ketidakadilan dari lingkungan sosial tempatnya tinggal. Phoolan berasal dari keluarga miskin berkasta rendah di permukiman kumuh di Uttar Pradesh, bagian utara India.

Ada juga Gulabi Gang (dari Hindi gulabī berarti “merah jambu”) adalah sebuah kelompok aktivis perempuan India. Kelompok ini pertama kali muncul di Bundelkhand, Uttar Pradesh. Dimulai oleh Sampat Pal Devi yang merespon merebaknya kekerasan domestik maupun kekerasan terhadap perempuan lainnya. Kelompok ini dikabarkan telah menyebar dan sejak 2010.

Di era masa kini kampanye mampu menjangkau ruang publik secara luas melalui media sosial. Misalnya penggunaan tagar dan akun Instagram. Aksi secara langsung juga terus dilakukan bahkan baru-baru ini di Mexico. Sekelompok perempuan menguasai kantor Komnas HAM dan dipergunakan untuk rumah aman bagi penyintas. Dimana, angka pembunuhan terhadap perempuan sangat tinggi di Mexico.

Kisah para perempuan ini menunjukkan bahwa perempuan pun memiliki ketangguhan, semangat dan keberanian. Kita tidak perlu menghadirkan sosok-sosok tokoh ini. Bahkan apa yang sudah dilakukan Phoolan Devi dan Gulabi Gang tidak lantas menepis ideologi patriarkhi yang berlaku secara sistemik. Diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih terus berlangsung.

Kita tak bisa mengabaikan tokoh seperti Mulan, Tris dan lainnya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana karakter seperti tokoh-tokoh ini muncul dari diri kita. Tentu rasa kesal, amarah dan sakit membuat kita berharap bisa melakukan pembalasan seperti Phoolan Devi misalnya. Kekerasan ada dimana-mana, tanpa pandang usia dan status sosial. Kekerasan yang berlaku secara sistemik dan berlaku atas semua perempuan, tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri. Kita tidak membutuhkan seorang wonder women karena sebenarnya wonder women itu ada di dalam diri kita. Tinggal bagaimana kesediaan kita untuk memunculkannya. 

Pernah ada pertanyaan tentang bagaimana cara menjadi aktivis. Saya katakan, menjadi aktivis bukan berarti menjadi berbeda. Kehidupan tetap berlaku normal bagi saya. Mencari nafkah, mengatur rumah, menyediakan kebutuhan rumah, bersosialisasi dengan teman dan banyak lagi. Menjadi berbeda karena kita meletakkan tujuan untuk kepentingan orang banyak. Setiap orang memiliki caranya sendiri. Poin pentingnya adalah ketika kita mau bersikap aktif. Memiliki empati dan bergerak bersama-sama dengan lainnya, lintas sektoral dan lintas gender.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi kebutuhan mendesak sebagai bentuk perlindungan hukum bagi perempuan. RUU ini belum menjadi prioritas untuk dibahas di Legislatif. Kita bisa melakukan aksi secara langsung maupun media sosial, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Kekerasan bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Kita tidak bisa hanya diam dan menunggu, berharap orang lain yang melakukan atau perubahan terjadi secara tiba-tiba.

Kemajuan tehnologi digital memungkinkan kita menyampaikan informasi ke segenap lapisan dan ke seluruh dunia. Setiap dari kita bisa ikut bersuara baik melalui gambar, tulisan, video dan banyak lagi. Setiap orang memiliki potensi dan ketangguhan. Kita hanya perlu menampilkannya. Kita tidak perlu lagi mengucap seandainya ada Mulan, Tris, Kathniss, Devi bahkan wonder women ada di dalam kita. Ada di antara kita. Mari bergerak dalam pertarungan kita!

Ernawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here