Dalam masyarakat patriarki berlaku pembagian kerja secara seksual dapur (domestik) sebagai wilayah kerja perempuan. Hingga muncul pameo sumur, dapur, kasur. Sementara laki-laki di ruang publik. Gerakan feminisme menolak Pandangan tersebut dan berjuang untuk menghapuskan pandangan yang bias gender ini. Pandangan tersebut direspon dengan gagasan kesetaraan gender

Pandemik COVID 19 telah merubah pola hidup masyarakat di berbagai sektor kehidupan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan Work From Home (WFH) dan masyarakat mulai melakukan karantina mandiri. Dengan dibekukannya  aktivitas perkantoran dan usaha hampir diberbagai kota, mobilitas masyarakat berhenti dan aktivitas ekonomi mandeg.

Disisi lain, di lingkup terkecil dalam skala rumah tangga, kerentanan telah membayangi perempuan dengan atau tanpa pembatasan aktivitas sebelumnya. Seorang ibu memiliki beban lebih untuk memastikan kelayakan kondisi bagi seluruh anggota keluarganya. Kondisi ini berlaku untuk semua ibu baik yang tinggal di desa maupun di kota.

Dalam berbagai bencana, perempuan dan anak-anak termasuk dalam kelompok rentan. Baik dari segi hilangnya akses ekonomi, beban ganda hingga berujung pada kekerasan. Hal ini terlihat pada masa Pandemi COVID-19 dengan meningkatnya kasus KDRT. Selain itu penanganan Pandemi COVID-19 belum berpijak pada kebutuhan perempuan. Di sisi lain, masa pandemi ini juga menunjukkan ketangguhan kaum perempuan seperti yang ditunjukkan melalui pendirian dapur umum sebagai bentuk solidaritas.

Dapur Umum

Dapur adalah salah satu ruang di rumah yang memiliki fungsi penting karena menjadi pusat pengolahan berbagai bahan makanan untuk konsumsi se-isi rumah. Walaupun dalam perkembangan budaya masyarakat modern, dapur seringkali tidak dijalankan fungsinya secara optimal, hanya sebagai pelengkap.

Mandegnya aktivitas ekonomi berdampak besar bagi para pekerja informal yang tidak mungkin bekerja dari rumah. Terlebih bagi kelompok masyarakat yang tidak memiliki rumah dan tidur di jalan. Mayoritas Pekerja Informal adalah perempuan yang dengan berkurangnya penghasilan, bertambah beban perempuan sekaligus ibu. Kebutuhan dasar yang mendesak adalah makan. Ketika penghasilan berkurang dan ketersediaan pangan mengalami ancaman maka dapur umum kemudian menjadi solusi yang paling tepat pada situasi pandemi.

Dapur sebagai wilayah kerja perempuan mengalami pergeseran nilai. Tak hanya dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan makan seisi rumah, namun bisa beralih fungsi menjadi dapur umum yang menjadi pusat pengolahan bahan makanan, memproduksi dan mendistribusikan hasil produksinya untuk masyarakat luas yang terdampak pendemi. Dapur umum menjadi penopang dan penjuru bagi kebutuhan pangan warga.

Dapur tidak lagi dipandang sebagai wilayah kerja perempuan dan bukan hanya sebagai tempat mengolah bahan makanan melainkan juga ruang produksi yang politis karena menjadi wadah bagi kolektif dengan prinsip kesetaraan gender. Hal menarik lainnya adalah terbentuknya hubungan solidaritas desa-kota. Para Petani menyediakan kebutuhan sayur-mayur tanpa memungut bayaran. Dan, mulailah terjadi hubungan kolektif dari produsen di desa dengan kaum miskin di perkotaan. Dengan demikian dapur tumbuh menjadi sebuah gerakan kolektif warga.

Solidaritas Pangan Jogja

Solidaritas Pangan Jogja atau yang disingkat dengan SPJ adalah sebuah aksi sosial warga bantu warga di masa pandemi. SPJ merupakan inisiatif perempuan peduli pangan masyarakat yang terdampak pandemi. Koordinator dan penanggungjawabnya dipegang oleh perempuan. Namun, tim kerjanya baik yang bertugas belanja, masak di dapur, dan mendistribusikan pangan ke warga terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tidak ada pembagian kerja berdasarkan seksual. Tetapi, pembagian kerjanya berdasarkan kesepakatan, kemauan, kemampuan dan prinsip kesetaraan gender.

Dalam penyalurannya, SPJ memilah berdasarkan kelompok sasaran, yaitu terutama bagi kelompok masyarakat yang tidur dan hidup di jalanan, pekerja sektor informal termasuk buruh gendong di pasar, dan komunitas masyarakat yang rentan dan membutuhkan.

Terjadinya pergeseran nilai karena dapur sesungguhnya adalah ranah politik perempuan yang didomestikasi. Kemudian, SPJ justru memindahkan dapur menjadi publik untuk menjawab kemiskinan pangan. Dapur dihadirkan bukan hanya sebagai pelengkap melainkan salah satu instrumen penting. Diantara berbagai fungsinya dapur umum bahkan dapat bermanfaat sebagai pusat pendataan baik keuangan maupun jumlah anggota masyarakat penerima pangan, juga sebagai alat menjalin hubungan lintas daerah.

Peran dan pengalaman perempuan dengan dapur umum membuktikan kemampuan perempuan dalam mengatur dan mengelola manajemen keuangan, pola distribusi, pembagian tugas dan kepemimpinan. Ke depan, dapur umum dapat menjadi salah satu instrumen gerakan. Baik gerakan sosial maupun politik. Tetap dengan tujuan-tujuan baik yang memiliki prinsip kolektif dan kesetaraan gender.

Ernawati

Juli 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here