“Kalau kami bertanya “Kapankah negara Indonesia menjadi besar atau raya?” Jawabnya tentulah saat bangsa Indonesia sendiri telah menjadi besar atau mulia. Karena tiap kebesaran bangsa tergantung kepada putra dan putrinya, patutlah kita lebih dahulu membangun perasaan yang mulia dan tinggi dalam hati mereka.”

Sepenggal kutipan kalimat diatas merupakan pidato Sitti Soendari dalam kongres perempuan pertama yang diadakan di Jogjakarta, 22 Desember 1928. Menurutnya, perempuan dan laki-laki mempunyai kewajiban dan tanggung jawab bersama dalam membangun Indonesia menjadi sebuah bangsa yang besar. Untuk itu, perlu membangun semangat bersama antara perempuan dan laki-laki dalam sebuah cita-cita bersama membangun bangsa.

R.A. Sitti Soendari Darmobroto, adalah perempuan muda jawa yang merupakan putri dari Wirio Darmobroto, seorang guru sekaligus kepala sekolah di Ponorogo. Ayahnya juga merupakan lulusan STOVIA, dan juga kepala Pegadaian Negeri Pemalang. Sejak kecil ia dirawat oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang, serta dididik menjadi perempuan yang bebas dan merdeka. Ia mempunyai cita-cita yang mulia, yaitu bekerja untuk nusa dan bangsanya.

Soendari lahir di Pemalang, dan merupakan lulusan H.B.S. Semarang. Ia aktif di organisasi pelajar Pribumi, Jong Java, serta Pemalang Bond sejak duduk di bangku sekolah. Ia mahir berbahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis, serta Melayu.

Setelah menamatkan sekolahnya, Soendari memilih untuk mengajar di sekolah dasar berbahasa Belanda di Pacitan, yaitu Boedi Moeljo, tetapi akhirnya diberhentikan oleh direktur sekolah karena banyak mendapat laporan dari wali murid akan aktifitasnya yang dianggap berbahaya. Ia kemudian bergabung dengan Insulinde, sebuah partai politik di Hindia Belanda, dimana ia menjadi propagandisnya. Ia kemudian merasa kecewa dan tidak mendapatkan kepuasan di lingkungan Insulinde, itu karena ia tidak menemukan tokoh yang kuat, seorang pemikir dan inisiator dalam partai tersebut.

Selama bersekolah di H.B.S. Semarang, Soendari aktif di Sarekat Pegawai Kereta Api dan Trem (Vereeniging van Spoor-en Trampersoneel, VSTP). Pada waktu VSTP yang bermarkas di Semarang mengadakan sebuah vergadering, Soendari ikut berpidato diatas podium dengan menggunakan bahasa Melayu. Ia berbicara tentang penjajahan kolonialisme Belanda. Suaranya lembut, tegas tapi menggelegar. Ia sangat pandai dalam merangkai kata-kata, dan mampu membangkitkan semangat perlawanan anti kolonialisme kepada peserta vergadering. Ia begitu piawai dalam berpidato, Kata-katanya seolah tidak ada habis-habisnya. Pidatonya disambut dengan sorak-sorai gegap gempita.

Soendari bukan hanya seorang perempuan yang cerdas, tetapi ia juga perempuan yang sangat berani dan radikal. Ia mengikuti aksi-aksi pemogokan ketika eskalasi sedang memanas. Karena aktiftasnya tersebut, ia tidak lepas dari pengamatan intelijen Belanda.

Situasi memanas terjadi di Pemalang, kebun-kebun tebu terbakar. Peristiwa tersebut membuat polisi Hindia Belanda berang. Bagaimana tidak, luas area yang terbakar sebanyak lima belas hektar. Naasnya, Soendari kemudian dicurigai menjadi otak utama pembakaran oleh Polisi Hindia Belanda. Beruntung ia berhasil diselamatkan oleh ayah dan dan kawannya (VSTP) ketika akan ditangkap di Semarang. Ia kemudian pergi ke Rotterdam, Belanda.

Begitulah Sitti Soendari, Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca menggambaran sosoknya, “Nampaknya yang hidup dalam otaknya adalah nasionalisme yang panas membakar dan dapat menggerakkan beratus, beribu manusia, lelaki dan perempuan.”

Awal Mula Menulis dan Menjadi Jurnalis Perempuan

Sejak menjadi seorang pelajar, Sitti Soendari sudah aktif menulis. Di Sekolahnya H.B.S. Semarang, ia menjadi pengurus majalah dinding, dan ia menulis setiap minggunya.

Soendari adalah didikan Raden Mas Tirto Adhi Surjo, seorang aktivis pergerakan, wartawan, pengarang, dan perintis pers Nasional. Tirto adalah teman sekolah sekaligus sahabat ayah Soendari. Pemikiran Soendari banyak terpengaruhi olehnya. Ia banyak berdiskusi dengan Tirto ketika datang berkunjung ke rumahnya.

Tirto Adhi Surjo merupakan salah satu pendiri surat kabar Poetri Hindia yang terbit 1 Juli 1908. Surat kabar ini diperuntukkan untuk kaum perempuan, dimana Soendari menjadi salah satu penulisnya. Susunan redaksinya terdiri dari perempuan-perempuan priyayi pribumi. Surat kabar ini bersifat lunak, membahas seputar keperempuanan, seperti cara memelihara anak, perawatan kecantikan, etika berkeluarga, bagaimana isteri melayani suami, dan lain-lain. Sasaran surat kabar ini memang diperuntukkan untuk perempuan kelas menengah ke atas. Sayangnya, Poetri Hindia tidak bertahan lama, Tirto dibuang ke Teluk Betung dan Ambon oleh pemerintah Hindia Belanda.

Gelora menulis Sitti Soendari disalurkan juga lewat terbitan yang ia buat, yaitu Wanito Sworo, dimana ia menjadi redaktur dan kemudian menjadi pemimpin redaksi. Cora Vreede-de Stuers, dalam bukunya Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian, menyebutkan bahwa Wanito Sworo terbit pada tahun 1913, dimana perintisnya adalah Sitti Soendari. Ia memberikan kontribusi tulisan yang membahas tentang meningkatnya kedudukan perempuan Indonesia. Dalam tulisan tersebut, ia secara tajam mengkritik poligami dan menekankan pentingnya pendidikan dan emansipasi bagi kaumnya demi kemajuan dan kepentingan nasional.

Sesuai dengan namanya, Wanito Sworo, memang diperuntukkan untuk wanita bersuara. Majalah ini lebih banyak membahas pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, serta mengajak kaum perempuan untuk belajar membaca dan menulis serta bersekolah. Menurutnya, pendidikan adalah suatu hal yang penting bagi kaum perempuan. Dimana pendidikan adalah kunci penting perubahan sosial dalam masyarakat jawa. Soendari juga membuat Sekar Setaman, sebuah rubrik khusus dalam Wanito Sworo, yang menggunakan bahasa Melayu. Isi dari Sekar Setaman adalah memuat artikel-artikel lepas, petuah-petuah, serta nasehat-nasehat, dan terbit bersamaan dengan Wanito Sworo.

Pentingnya Pendidikan Bagi Kaum Perempuan

Selain pemikirannya yang anti kolonialisme, Sitti Soendari juga sangat anti dengan feodalisme. Hal ini dibuktikan dengan sikapnya yang menginginkan kaum perempuan (Jawa) harus diberikan pendidikan, karena dengan pendidikan lah maka perempuan akan terbebas dari sistem adat paham tua.

“Adalah sulit mengubah adat istiadat serta praktiknya yang didasarkan pada agama. Saya sudah lama berpikir keras mengenai hal itu dan menemukan bahwa tidak ada yang cukup efektif untuk menghilangkan adat itu. Akhirnya, saya menyadari bahwa tidak ada senjata menghadapi adat yang sudah busuk itu kecuali yang pertama, yakni pendidikan.”

Soendari sangat tidak menginginkan kaum perempuan (Jawa) menjadi bodoh, karena kebodohan adalah bentuk kemunduran suatu bangsa. Tidak hanya pendidikan saja, pelatihan dan keterampilan juga harus diberikan pada perempuan kalangan bawah dan atas.

Dalam kongres perempuan pertama, 22 Desember 1928, Sitti Soendari hadir sebagai peserta dari utusan Poetri Indonesia. Dalam pidatonya yang panjang, ia juga membahas mengenai pendidikan. Menurutnya, kaum perempuan atau ibu mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anaknya. Di tangan seorang ibu, anak akan menjadi pribadi yang baik, kuat, bermoral, dan berguna bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu patutlah seorang ibu atau pun ayah mendidik anak dengan mengikuti bakatnya, sehingga anak bisa lebih maju. Tidak hanya mendapat pendidikan di sekolah saja mengenai baca, tulis dan hitung, tetapi juga harus mendapatkan pendidikan di rumah mengenai moral, sikap, dan budi pekerti. Dengan begitu menurut Soendari, sang anak akan menjadi berjasa setidak-tidaknya bagi tanah dan bangsanya.    

Pada tahun 1916, ketika kongres pendidikan kolonial di Hague, Belanda, Sitti Soendari hadir menyampaikan pandangannya mengenai pendidikan perempuan. Dengan penuh semangat Ia berbicara agar anak-anak perempuan (Jawa) harus bersekolah dan mendapatkan pendidikan standar dan berkualitas sama dengan anak laki-laki, termasuk juga dengan belajar berhitung, menulis, membaca, belajar berbahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Tidak hanya itu, ia juga menginginkan perempuan belajar cara menjahit, memasak, dan membatik.

Anti Poligami

Sitti Soendari adalah perempuan yang sangat tidak berkompromi dengan poligami. Menurutnya, penderitaan yang diakibatkan oleh praktik poligami jauh lebih parah dari yang dibayangkan, untuk itu ia bersikeras poligami harus dihapuskan.

Pandangan yang sama tentang poligami juga disampaikan dalam pidatonya di kongres perempuan pertama, yang berjudul “Kewajiban dan Cita-cita Perempuan Indonesia” sebagaimana tertulis dalam buku Cora Vreede-De Stuers, Sejarah Perempuan Indonesia:

Kasus poligami dan pernikahan di bawah umur…

Perpisahan dan perceraian tidak dapat dihitung

…Sekali kebebasan perempuan hilang dalam perkawinan, Sekali cinta telah pergi,

maka rumah akan hancur emansipasi rakyat kita akan berhenti.

Sikap kerasnya terhadap poligami juga diperlihatkan dalam Kongres Perempuan Pertama 1928. Ketika salah seorang utusan dari organisasi Aisjijah, Sitti Moendjijah berpidato membela hukum perkawinan Islam, termasuk poligami. Ia bangkit dan menyerang Sitti Moendjijah yang mendukung poligami, dan menuduhnya sebagai pembela standar ganda untuk lelaki dan perempuan.

Persatuan dan Kesetaraan

Sebagai seorang perempuan yang selalu berfikir untuk kemajuan negara dan bangsanya, Soendari juga menekankan sebuah konsep persatuan. Persatuan yang dimaksud adalah kerjasama antara putra dan putri Indonesia dalam membentuk ikatan persaudaraan yang tidak gampang terpecah-belah, saling mempercayai demi membela tanah air dan bangsa.

Dalam pidatonya di kongres perempuan pertama, Soendari mengingatkan mengenai salah satu kewajiban perempuan tentang persatuan, yaitu:

Kewajiban perempuan adalah bekerja sama supaya tumpah darah kita menjadi sebuah negara yang bernasib baik. Bahagia atau damai sentosa akan timbul jika semua pulau dan bangsa Indonesia berperasaan satu dan menjadi satu dan persatuan itu teratur dengan baik.”

Akan tetapi menurutnya, sebelum Indonesia menjadi satu dan memahami tubuhnya sebagai suatu persatuan yang kuat, patutlah persatuan itu lebih dahulu menjadi matang dalam pikiran. Persatuan itu patutlah menjadi barang yang nyata, bukan hanya sebagai mimpi atau angan-angan.  

Tidak hanya berbicara tentang persatuan dalam pidatonya, Soendari juga berbicara mengenai kesetaraan, dalam hal ini persamaan laki-laki dan perempuan. Adalah penting bagi bangsa Indonesia untuk menghargai kesetaraan, sebab bangsa Indonesia tidak akan maju jika sebagian rakyatnya ditinggalkan dalam kebodohan, dan sebagiannya memperoleh kemajuan dan perhatian. Kedua-duanya harus seimbang, harus bekerja sama dalam memajukan bangsa Indonesia, dan menolak segala hal yang bisa memecah-belah. Tentunya dalam hal ini, Soendari berharap agar laki-laki bisa menjunjung tinggi dan menghargai persamaan dengan kaum perempuan.

Terkait dominasinya laki-laki terhadap perempuan dalam lingkup rumah tangga, Soendari mengkritik dengan keras: “Tidak pantas sekali-kali kalau laki-laki zaman sekarang ini masih hendak memperlihatkan kekuasaannya, tidak pantas kalau kaum laki-laki hendak memperlihatkan kegagahan dan kekuatannya saja.” (Seperti yang dikutip di Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang).

Terakhir, semoga apa yang disuarakan dan diperjuangkan oleh Sitti Soendari dalam memajukan kaum perempuan dan bangsanya melalui pemikiran, tulisan dan gerakannya bisa dijadikan semangat dan inspirasi bagi kaum perempuan di Indonesia untuk terus bergerak melanjutkan perjuangan kaum perempuan dan bangsanya. ***

ULFA ILYAS, Pengurus DPP API Kartini, Divisi Ideologi.

Sumber Tulisan:

Ananta Toer, Pramoedya, Rumah Kaca, Jakarta: Lentera Dipantara, 2006

Nur Setyowati, Hajar, dkk, Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa, Jakarta: I:Boekoe, 2008

Blackburn, Susan, Perempuan dan Negara dalam Era Indonesia Modern, Jakarta: Kalyanamitra, 2009

Steurs, Cora Vreede-De, Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008

Blackburn, Susan, Kongres Perempuan Pertama/Tinjauan Ulang, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV, 2007

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here