Sirimavo Ratwatte Dias Bandaranaike adalah seorang politisi Sri Lanka. Perempuan ini menjabat Perdana Menteri Sri Lanka untuk tiga kali kurun waktu, yaitu pada periode 1960-1965, 1970-1977, dan 1994-2000. Ia merupakan perdana menteri perempuan pertama di dunia.

Sungguh menakjubkan, di tengah lingkungan politik yang dikuasai laki-laki, Sirima bisa terpilih sebagai Perdana Menteri. Itu terjadi setelah suaminya, Solomon Bandaranaike, yang menjabat Perdana Menteri 1956-1959, dibunuh oleh ekstremis Budha. Sepeninggal suaminya, Sirima memimpin partai Kebebasan Sri Lanka (SLFP). Partai beraliran kiri-tengah ini menang pemilu tahun 1960. Sirima ditunjuk sebagai Perdana Menteri.

Perempuan kerap diremehkan dalam politik, apalagi jika lingkungan politiknya sangat maskulin. Tetapi jangan meremehkan radikalisme Sirima. Begitu menjadi Perdana Menteri, kebijakan-kebijakannya cenderung sosialis. Mulai dari menasionalisasi perusahaan minyak asing. Menasionalisasi bank swasta, lalu mengubahnya menjadi bank rakyat. 

Untuk politik luar negeri, Sirima membawa Sri Lanka dalam gerakan non-blok. Sri Lanka juga dibuat dengan Soviet dan Tiongkok. Sayang sekali, dia membuat kebijakan yang menghapus bahasa Inggris, lalu menggantinya dengan bahasa Sinhala. Kebijakan ini memicu kemarahan etnis minoritas Tamil. Ia terjungkal dari kursi Perdana Menteri tahun 1964.

Tapi, Sirimavo tak menyerah. Lima tahun menjadi oposisi, dia kembali terpilih sebagai Perdana Menteri tahun 1970, lewat Front Kiri yang dipimpin oleh SLFP. 
Di masa kedua ini, yang menonjol adalah politik luar negerinya: tidak mengakui Israel, tetapi mengakui Jerman timur, Vietnam utara, dan Korea utara. Dia menasionalisasi semua perusahaan swasta yang memiliki pekerja lebih dari 100 orang. Dia juga berupaya memperkuat ekonomi dalam negeri lewat upaya industrialisasi.

Dia yang mengubah Ceylon menjadi Republik Demokratik Sosialis Sri Lanka pada 1972. Sayang, krisis minyak 1973 berdampak pada ekonomi Sri Lanka. Ini yang memicu inflasi tinggi dan kelangkaan sejumlah barang pokok. Meski di ujung jabatannya dia mulai banyak bicara isu perempuan, tetapi krisis politik tak terhindarkan. Apalagi tahun 1970, ia kalah di pemilu.

Di masa tuanya, jalan politik Sirima makin meredup. Tahun 1994, Chandrika Kumaratungga, anak perempuannya terpilih sebagai Presiden. Dia menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan Presiden sejak Sri Lanka mengadopsi presidensialisme ala Perancis.

Waktu Chandrika jadi Presiden, dia menunjuk ibunya, Sirima, sebagai Perdana Menteri. Waktu itu usia Sirima sudah menginjak lansia: 78 tahun.
Dia berhenti total dari politik tahun 2000. Dan di tahun itu juga, tepatnya 10 Oktober 2000, dia meninggal dunia.

RINI MARDIKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here