Foto: Perpusnas

Surastri adalah nama kecil dari SK Trimurti. Setelah menjadi wartawati dan penulis, ia lebih dikenal dengan sebutan Surastri Karma Trimurti yang disingkat dengan SK Trimurti. SK Trimurti adalah perempuan pertama yang duduk dalam pemerintahan sebagai Menteri Perburuhan. Saat menjabat Menteri Perburuhan, perhatiannya terhadap perempuan sangat besar. Dialah yang pertama kali menerbitkan ketentuan cuti haid bagi buruh perempuan.

“Perusahaan-perusahaan sering meributkan hak cuti tiga bulan bagi wanita hamil dan itulah sebabnya mereka lebih suka menerima laki-laki sebagai pekerja. Mereka menganggap rugi untuk memberi cuti tiga bulan. Lha, apa mau mengingkari sesuatu yang sudah alamiah? Menurut saya, cuti tiga bulan itu sebenarnya tak cukup, karena sebagai ibu ia harus terus menyusui anaknya.”

SK Trimurti lahir di Desa Sawahan, Boyolali, Karesidenan Surakarta pada 11 Mei 1921. Ayahnya bernama R. Ng. Banjarsari Mangunsuromo dan ibunya RA Saparinten Mangunbisomo. Ia lahir tepat hari Sabtu Kliwon menurut penanggalan Jawa. Gelar R. Ng dan RA di depan nama orangtua SK Trimurti menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Ayahnya adalah seorang carik yang kemudian meningkat menjadi Asisten Wedana atau Camat. Ndoro Seten adalah panggilan kehormatan bagi ayah SK Trimurti.

Kiprah di Pergerakan

Ia adalah pejuang perempuan 3 (tiga) jaman. Terlibat dalam gerakan masa kolonial Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa-masa Indonesia merdeka. Lulus dari Meisjes Normaal School (MNS) atau sekolah guru untuk perempuan di Jebres, Surastri bekerja sebagai guru. Di Banyumas, ia mengajar dan berkenalan dengan mesin ketik serta dunia organisasi. Ia memilih bergabung dengan Rukun Wanita dan kerap mengikuti rapat-rapat Budi Utomo (BU) Cabang Banyumas. Sejak mendengar pidato Soekarno ia sadar bahwa Indonesia harus bergegas menerapkan anti imperialisme dan anti kolonialisme. Atas pilihannya sendiri, ia meninggalkan status PNS-nya dan bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia).

Ia adalah saksi hidup peristiwa bersejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Ia adalah perempuan berkebaya dan bersanggul yang berdiri tepat di sebelah kanan Fatmawati. Sayuti Melik, suaminya yang mengetik naskah proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Presiden Soekarno. Sebagai saksi hidup perjuangan bangsa Indonesia saat dijajah Belanda dan Jepang, ia merasakan bagaimana khidmatnya upacara tersebut dan ikut serta menyebarkan berita kemerdekaan itu ke pelosok negeri.

Ia juga wartawati yang tulisannya tajam dan berani, sehingga membuat marah Pemerintah Kolonial Belanda dan Jepang. Konsekwensinya, SK Trimurti kerap keluar masuk penjara. Keberaniannya dalam menulis dimulai saat ia diminta menulis oleh Soekarno di Fikiran Rakyat yang merupakan corong Partindo. Sejak saat itu ia tak berhenti menulis dan menerbitkan media mandiri, seperti majalah berbahasa Jawa bernama Bedug yang kemudian berubah menjadi Terompet dan berbahasa Indonesia. Setelah menikah dia mendirikan surat kabar sendiri bernama Pesat. Terakhir, setelah bercerai ia mendirikan majalah Mawas Diri. Tulisan SK Trimurti banyak dimuat di Suluh Kita, Sinar Selatan dan API Kartini.

Tahun 1950, SK Trimurti bersama pejuang perempuan lainnya mendirikan Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) yang berkedudukan di Yogyakarta. Terpilih sebagai Ketua I Tris Metty, Ketua II Umi Sarjono dan Ketua III SK Trimurti. Gerwis adalah fusi beberapa organisasi yang merasa tidak puas pada aktivitas organisasi lama yang hanya berkutat masalah kewanitaan, tidak berbau politik, dan tidak bersifat nasional. Gerwis menginginkan agar keanggotaannya lebih massif dan menembus strata masyarakat bawah. Gerwis berkembang sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari jumlah keanggotaannya yang terus meningkat. Tahun 1951 anggotanya 6000 orang dan tahun 1954 meningkat menjadi 80.000 orang dan memiliki 203 cabang.

Pada Kongres Ketiga 1954, Gerwis berubah nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Namun, sejak berubah nama menjadi Gerwani SK Trimurti sudah tidak aktif lagi. Ia merasa Gerwani terlalu dekat dengan PKI dan banyak keputusan organisasi yang diintervensi. Hal ini membuatnya disingkirkan dalam sebuah pemungutan suara dan merasa sudah tidak sehaluan lagi. Versi lain mengatakan, keluarnya SK Trimurti dari Gerwani dipengaruhi oleh sikap Sayuti Melik, suaminya yang mengkritik PKI.

Menolak Poligami

Soekarno adalah sosok guru, teman dan kakak bagi SK Trimurti. Namun demikian, kedekatannya dengan Soekarno dan istri-istrinya (Fatmawati dan Inggit Garnasih) tidak membuat SK Trimurti menyetujui semua sikap Soekarno. SK Trimurti sangat menentang poligami yang dilakukan oleh Soekarno. Namun, SK Trimurti lebih memilih melakukan kritik secara empat mata ketimbang melakukan kritik terbuka di hadapan umum.

“Saya mendapat kesan, kelihatannya Bung Karno menginginkan agar zus Fat menambah pengetahuannya lebih banyak lagi. Dia menceritakan istri-istrinya dan saya hanya mendengarkan saja, sebab dia tahu saya tak setuju poligami. Tapi yang saya sukai, Bung Karno tak pernah menjelek-jelekkan istri-istrinya.”

SK Trimurti tidak suka nama aslinya Surastri diplesetkan menjadi Sulastri, karena Sulastri adalah istri kesekian kali dari Janaka. Ketidaksetujuannya atas poligami pula yang membuat ia memilih bercerai dengan Sayuti Melik. Suaminya pernah mengutarakan keinginannya untuk menikah lagi dengan perempuan lain. Dengan berat hati, SK Trimurti mengijinkan Sayuti menikah lagi dengan syarat ia harus diceraikan terlebih dahulu. Sikap legowo ditunjukkan oleh SK Trimurti dengan bercerai secara damai. Begitulah, sikap anti poligami tak menghalanginya untuk menghormati orang lain. Setelah bercerai, SK Trimurti tetap bersahabat dengan Sayuti Melik dan istrinya.

Akhir Hidup SK Trimurti

Status sebagai mantan menteri tak membuat SK Trimurti bergelimang harta. Ia lebih memilih hidup sederhana dan tinggal di Jalan Kramat Lontar, sebuah perkampungan yang berdekatan dengan rakyat biasa daripada tinggal di kawasan Menteng yang mewah dan disediakan oleh negara.

Pada usia tuanya, kesehatan SK Trimurti merosot sangat tajam. Ia bolak-balik dirawat di rumah sakit, seperti di RS MMC, RS Mitra Keluarga, RS PGI Cikini dan RSPAD Gatot Soebroto. Untuk biaya perawatan kesehatannya tak sedikit keluarga mendapatkan uluran bantuan dari pemerintah. Selain itu biaya perawatan SK Trimurti juga didapat dari hasil penjualan buku 95 Tahun Perjuangan SK Trimurti yang berisi kumpulan tulisan terpilih SK Trimurti.

SK Trimurti meninggal di usia 96 tahun bertepatan dengan Peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Meninggalnya SK Trimurti juga bersamaan dengan meninggalnya Ali Sadikin (82 tahun). Keduanya, SK Trimurti dan Ali Sadikin adalah tokoh Petisi 50 yang melakukan kritik terhadap pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Jenasah SK Trimurti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Negara. Beberapa pejabat negara dan tokoh-tokoh penting juga turut hadir, seperti Menteri Perekonomian Hatta Rajasa dan Megawati Soekarno Putri. Jenasah SK Trimurti dihantar oleh teman-temannya dari kalangan wartawan dan dimakamkan secara militer yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.

Perjuangan SK Trimurti untuk Indonesia merdeka mengilhami Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mengabadikan namanya sebagai anugerah atau penghargaan dengan nama SK Trimurti Award. Sebuah anugerah penghargaan yang bertujuan untuk melestarikan semangat dan prinsip perjuangan SK Trimurti baik kepada aktivis perempuan atau jurnalis perempuan.

Sebelum meninggal, SK Trimurti menerima beberapa penghargaan dari pemerintah Indonesia, yaitu Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961), Bintang Mahaputra Tingkat V (1961), Satya Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan (1965), Anugerah Adam Malik Bidang Sastra (1989), Tetua Wartawan dari PWI Pusat dalam rangka Hari Pers Nasional (1999).

Humaira

Sumber: Ipong Jazimah, SK Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia, Penerbit Buku Kompas, 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here