Wabah corona virus telah memicu peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Pasalnya, istri dan anak perempuan terpaksa terperangkap lebih lama dengan pelaku kekerasan saat beraktivitas di rumah. Tak hanya itu, peran domestik perempuan juga semakin bertambah saat di rumah saja selama pandemi.

Tahukah kamu tentang mitos dan fakta seputar KDRT ? Baiklah, mari belajar tentang fakta dan mitos seputar KDRT di sekitar kita. Ada 10 (sepuluh) mitos dan fakta seputar Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang akan kita kupas satu persatu di sini.

Pertama, mitosnya kekerasan dalam rumah tangga jarang terjadi. Faktanya, satu dari tiga istri mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Survei Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, menyebut 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun pernah menjadi korban kekerasan. Data tersebut merupakan hasil  Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 dengan melibatkan 9.000 responden dari seluruh Indonesia.

Kedua, mitos yang berkembang menyatakan bahwa kekerasan dilakukan oleh suami/pasangan yang berpendidikan rendah. Faktanya, kekerasan juga terjadi dalam keluarga-keluarga berpendidikan tinggi.

Ketiga, mitos mengatakan bahwa KDRT hanya terjadi di keluarga miskin. Faktanya, KDRT merupakan persoalan di semua lapisan masyarakat, dalam banyak budaya dan semua golongan umur.

Keempat, mitos mengatakan bahwa rumah tangga adalah urusan pribadi dan bukan urusan orang lain. Faktanya, penyerangan adalah kejahatan. Masyarakat secara keseluruhan bertanggungjawab atas perbuatan kriminal.

Kelima, mitosnya jika istri/perempuan tidak suka ia bisa pergi meninggalkan pasangan. Faktanya, perempuan korban KDRT memiliki hambatan untuk meninggalkan pasangannya.

Keenam, selama ini mitos yang berkembang mengatakan bahwa pelaku KDRT melakukannya karena tidak mampu mengendalikan kekerasan tersebut. Faktanya, sebagian pemukul istri juga menyerang orang lain di luar rumah, mereka mampu mengendalikan kekerasan terhadap orang lain dan memilih melakukannya pada istri.

Ketujuh, mitos yang berkembang menyebut bahwa perempuanlah yang memancing kekerasan misalnya dengan mengomel atau tindakan yang menjengkelkan. Faktanya, tidak ada alasan untuk memaklumi kekerasan dan tidak seorang pun patut dihukum.

Kedelapan, mitosnya KDRT terjadi karena suami kehilangan kontrol. Faktanya, KDRT justru merupakan kontrol dan penciptaan rasa takut yang dibuat suami terhadap istri.

Menurut Jill Cory dan Karen Mc Andless-Davis, penulis buku When Love Hurts: A Woman’s Guide to Understanding Abuse in Relationships : Setiap taktik dalam kekuasaan dan roda kontrol digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan kontrol dalam hubungan. Tidak peduli apa pun taktik yang digunakan pasangan, efeknya adalah mengontrol, mengintimidasi atau mempengaruhi pasangan agar merasa tidak memiliki suara yang setara dalam hubungan tersebut.

Kesembilan, mitosnya penganiaya mengalami gangguan atau sakit jiwa atau mabuk. Faktanya ada kasus dimana penganiaya memang mengalami gangguan jiwa atau mabuk. Namun lebih banyak suami menyerang istri dalam keadaan normal.

Kesepuluh, mitos yang berkembang menyatakan bahwa pelaku kekerasan tidak taat beribadah. Namun dalam kenyataannya ada tokoh agama yang melakukan KDRT dengan menggunakan dalil keagamaan sebagai pembenar.

Demikianlah, mitos dan fakta seputar KDRT yang berada di sekitar kita. KDRT adalah kejahatan dan perbuatan kriminal, Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga!

Indah Pratiwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here