Di era sekarang Neoliberal atau neolib menjadi momok yang sangat menakutkan. Konsep Neoliberalisme pertama kali diperkenalkan oleh para Ekonom di Jerman yang beraliran Feurbach, yang mengkritisi sistem ekonomi liberalisme klasik yang berkembang di Jerman. Neoliberalisme klasik dikritisi karena dianggap tidak mampu memajukan tatanan perekonomian yang ada.

Neoliberalisme di Jerman menolak kebebasan pasar bebas murni dan menekankan nilai-nilai humanistik. Pasca perang dunia pertama pada tahun 1930-an para ekonom beraliran Feurbach mendorong dan men-judge bahwa konsep moderat pragmatis dari neoliberal dianggap mampu menjadi obat penawar dari kegagalan liberalisme klasik dalam memajukan tatanan perekonomian.

Konsep neoliberalisme yang pertama kali diperkenalkan oleh para ekonom beraliran Feurbach sangat berbeda dengan konsep neoliberalisme yang kita kenal dan pahami sekarang ini. Dimana, konsep sekarang berkaitan erat dengan deregulasi, privatisasi dan lain-lain.

Konsep neoliberal berubah atau tidak lagi sesuai dengan apa yang diperkenalkan di Jerman, bermula saat beberapa negara lain mulai mengadopsi konsep neoliberalisme ini. Salah satunya adalah negara Chili, yang mengadopsi konsep neoliberalisme dengan tujuan untuk memajukan tatanan perekonomiannya. Akan tetapi, teori dan praktiknya terjadi sangat tidak sejalan. Justru, konsep yang diadopsi dalam praktiknya lebih persis dengan konsep yang lama, yakni liberalisme klasik yang dianggap gagal di Jerman.

Pada tahun 1973 dua negara besar berhasil dipengaruhi dengan konsep ini, yakni Amerika Serikat dan Inggris. Dengan dukungan dua negara besar ini, neoliberalisme berkembang pesat. Kemudian melahirkan formula baru dan akhirnya sampai ke negara-negara yang lain. Formula baru yang dilahirkan kini dikenal dengan Washington Consensus, yang menjadi distributornya adalah lembaga dunia yang salah satunya adalah IMF.

Konsep neoliberalisme masuk di Indonesia tidak terlepas dari campur tangan IMF pada tahun 1997 tepat saat krisis moneter atau krisis ekonomi terjadi. Gambaran konsep neoliberalisme sudah ada sejak tanda tangan kontrak karya PT.Privort pertama kali dilakukan. Namun secara regulasi terjadi pada saat Presiden Republik Indonesia dalam hal ini Soeharto menandatangani Letter of Intent (LOI) yang berisikan manifestasi dari Washington Consensus yang berdampak pada Privatisasi BUMN.

Praktek neoliberalisme dianggap mengadopsi akumulasi primitif yang didalamnya terdapat penyingkiran dan perampasan seperti yang terjadi di era pra-kapitalisme. Secara umum, dampak neoliberalisme yaitu yang kaya semakin kaya (pemodal besar) dan yang miskin semakin miskin.

Tidak bisa dipungkiri bahwa penerapan neoliberal memang mengorbankan sejumlah massa rakyat dan tidak memandang gender. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang menyebabkan dampaknya lebih dirasakan oleh kaum perempuan, salah satunya yaitu konstruk sosial yang teramat kuat menghegemoni pemikiran masyarakat konservatif sehingga otak-otak patriarki terpelihara dengan amat kentalnya.

Kini perempuan tidak bisa lepas dari dekapan neoliberalisme. Sejak lama, mulai saat kaum perempuan berfikir tentang emansipasi, persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya dianggap sebagai dasar untuk menopang kemajuan kaum perempuan. Akan tetapi, perempuan telah hidup dalam dekapan sistem neoliberalisme yang menghambat beberapa prasyarat untuk kemajuan perempuan. Adapun yang menjadi syarat dalam kemajuan perempuan seperti: makanan yang cukup, kesehatan yang baik, tingkat pendidikan dan kemerdekaan dalam mengambil keputusan.

Adapun beberapa dampak yang dirasakan oleh kaum perempuan, misalnya: Pertama, dalam hal privatisasi layanan publik yang merupakan salah satu esensi dari neoliberalisme. Kebijakan ini secara tidak langsung mendomestifikasi tugas negara ke tangan perempuan, seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, air bersih serta layanan listrik dan lain sebagainya. Kenapa hal ini dianggap lebih berpengaruh pada perempuan? Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa ini semua tidak lain dari konstruk sosial, dimana dalam kehidupan bermasyarakat perempuan masih ditempatkan sebagai penanggung jawab dalam ranah domestik. Kebijakan ini memicu kenaikan biaya saat pemerintah menyerahkannya kepada mekanisme pasar. Saat kenaikan biaya terjadi maka perempuanlah yang paling memutar otak untuk mempetakan perekonomian keluarga agar bisa mencukupi kebutuhan dalam beberapa bidang ini.

Selanjutnya, dampak yang dirasakan perempuan berupa penyingkiran. Perdagangan bebas merupakan salah satu bentuk kebijakan neoliberalisme. Dimana perdagangan bebas berpotensi menghancurkan sektor produksi kecil seperti UMKM. Data pemberdayaan perempuan mencatat 60% pelaku UMKM adalah perempuan. Kehadiran pasar bebas menggilas sektor-sektor ini. Itu artinya, dalam hal ini perempuan tersingkirkan dari sektor produksi.

Kita ketahui bahwa neoliberalisme hadir hanya menguntungkan para pemodal besar (kapitalis), rakyat miskin malah semakin dimiskinkan. Akibat ketimpangan ini, banyak perempuan yang mengambil alih tugas laki-laki sebagai pencari nafkah. Bekerja dengan upah rendah dari upah laki-laki dan bahkan kehilangan hak-hak dasarnya seperti cuti haid, cuti hamil dan cuti melahirkan. Tidak hanya menjadi buruh lokal, perempuan juga menjadi buruh migran (TKW). Dari tahun 1996 sampai tahun 2007 jumlah buruh migran perempuan mengalami peningkatan kuantitas, dari 56% menjadi 78%. Pekerjaan yang dilakukan pun tidak terlepas dari wilayah domestik seperti menjadi pembantu rumah tangga, baby sitter dan lain sebagainya. Tak sedikit diantaranya mendapat kekerasan dari majikan.

Yang paling menohok yaitu komoditifikasi tubuh perempuan. Kehadiran neoliberalisme membuat para pemodal besar (kapitalis) memanfaatkan segala hal yang berpotensi membuahkan profit (laba) dan tubuh perempuan adalah salah satunya. Sampel umum seperti iklan-iklan komersial yang menampilkan tubuh perempuan dengan tujuan untuk menarik perhatian konsumen. Juga perdagangan manusia yang mengarah pada eksploitasi seksual (seks komersial). International Organization for Migration (IOM) menyebutkan mulai dari maret 2005 sampai 2011 menyebutkan bahwa mereka menangani 4.067 kasus perdagangan manusia dan 90% diantaranya adalah perempuan.

Selain digunakan sebagai objek seksualitas, perempuan juga menjadi konsumen sekaligus menjadi representatif atau perpanjangan tangan dari para pemodal besar (kapitalis). Perempuan menjadi konsumen dikarenakan mudahnya terhegemoni atau terpengaruh. Contohnya, standarisasi kecantikan yang ditetapkan oleh pasar harus berkulit putih, mulus dan lain sebagainya. Maka sejumlah perempuan akan berbondong-bondong menggunakan  produk pemutih serta penghalus agar bisa mencapai standar kecantikan yang ditetapkan pasar.

Sementara banyak perempuan menjadi representatif atau perpanjangan tangan dari kapitalis, karena perempuan dianggap sebagai penarik konsumen. Kita bisa lihat sekarang banyaknya olshop yang mayoritas owner-nya adalah perempuan. Hal ini memicu perempuan lebih fokus dalam emansipasi ekonomi, lebih giat mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang tak lain hanya menambah laba atau keuntungan bagi para kapitalis, Sehingga emansipasi intelektual dikesampingkan.

Dari uraian diatas kita mengetahui bahwa akar dari segala polemik yang dialami oleh perempuan bersumber dari penerapan neoliberalisme, bukan hanya perempuan tapi semua elemen masyarakat termasuk laki-laki didalamnya.
Masalah tidak akan pernah habis, selagi radix (akar)-nya masih tertopang kuat. Jika neoliberalisme dianggap sebagai sebagai akar dari segala masalah, maka menghancurkan neoliberalisme adalah jalan keluarnya. Bagaimna cara menghancurkan neoliberalisme? Persatuan adalah kekuatan, jika Indonesia bersatu dan bersepakat menolak neolib, maka neoliberalisme akan hancur.

Mari bangun persatuan nasional untuk mewujudkan kesetaraan gender!

Yulianti J, Ketua DPK API Kartini Palopo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here