Resensi Buku: Perempuan di Titik Nol

0
868

Oleh: Siti Rubaidah*

Lewat kisah Firdaus, Nawal menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum laki-laki. Sebuah kritik sosial yang keras dan pedas atas budaya patriarkhi yang masih melingkupi masyarakat di negara-negara berkembang.

Perempuan di Titik Nol adalah sebuah buku yang mengguncang batin siapapun yang membacanya. Ditulis dengan judul Women at Point Zero oleh Nawal el-Sadawi, seorang penulis feminis perempuan Mesir. Di Indonesia, buku ini diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang concern mengangkat karya-karya sastra dari negara berkembang, termasuk sastra Arab.

Nawal el-Sadawi penulis buku Perempuan di Titik Nol sendiri adalah seorang dokter berkebangsaan Mesir yang dikenal sebagai novelis sekaligus pejuang hak-hak kaum perempuan. Pada tahun 1972, Nawal diberhentikan dari jabatan Direktur Pendidikan Kesehatan dan Pemimpin Redaksi Majalah Health karena tulisan dan pandangannya dianggap terlalu berani dan tidak menguntungkan kepentingan Menteri Kesehatan.

Kelahiran buku ini diilhami dari kisah nyata seorang perempuan yang ditemuinya di penjara Qanatir. Melalui Perempuan di Titik Nol, Nawal mengisahkan liku-liku kehidupan Firdaus dari masa kecilnya di desa hingga menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo. Ia divonis hukuman gantung karena telah membunuh seorang germo laki-laki. Di dalam penjara, tak sedikitpun ia gentar akan kematian. Bahkan, ia menyambut dengan sukacita hukuman gantung itu. Saat ada kesempatan untuk mengajukan grasi kepada presiden, ia dengan tegas menolak. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran sejati. “Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk kejahatan yang kau lakukan.” (PdTN: 169)

Nawal menggambarkan situasi khas patriakhis dalam kehidupan Firdaus, sang tokoh Perempuan di Titik Nol ini sebagai berikut: “Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya. Ibu tidak ada lagi, malahan ada seorang perempuan lain yang memukul tangan saya dan mengambil-alih mangkuk itu. Ayah berkata, bahwa dia adalah Ibu saya.”

Kemiskinan dan kelaparan telah membuat Firdaus yatim piatu. Sejak saat itu, Firdaus kecil ikut pamannya seorang mahasiswa Al-Azhar di Kairo. Sebagai perempuan, Firdaus kerap mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Namun, ia cukup beruntung karena pamannya memasukkannya ke sekolah hingga tamat Sekolah Menengah Atas. Sebuah perjodohan yang diatur oleh istri pamannya. Firdaus memasuki kehidupan baru yang kelam bersama lelaki tua yang sangat pelit dan punya borok di wajahnya.

“Suatu hari ia menemukan sisa makanan, dan ia mulai berteriak-teriak begitu kerasnya, sehingga semua tetangga dapat mendengar. Setelah peristiwa itu, ia mempunyai kebiasaan untuk memukul saya, apakah dia mempunyai alasan ataupun tidak.” (PdTN: 70)

Tak tahan dengan pukulan suaminya, Firdaus keluar rumah dan menghadapi kerasnya kehidupan kota Kairo. Perjalanan hidup yang pahit mempertemukan Firdaus dengan Syarifa. Di tangan Syarifa, Firdaus menjadi orang baru. Ia mengungkapkan segi-segi yang tak tampak pada diri Firdaus sebelumnya. Fakta bahwa Firdaus adalah perempuan yang cantik, terpelajar dan punya tarif yang tinggi. Firdaus telah menjadi pelacur di tangan Syarifa.

Sebuah perasaan bersalah sempat membawa Firdaus meninggalkan kehangatan kasur empuk dan bantal berkain sutra. Berbekal ijasah Sekolah Menengah Atas, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan dengan gaji yang tak seberapa. Walhasil, ia hanya mampu menyewa kamar kecil di sebuah perkampungan dan harus antri ke kamar mandi setiap pagi. Kemudian berangkat kerja dengan kendaraan umum dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

Sebuah momen membawanya mengenal sosok Ibrahim, seorang ketua komite revolusioner  di perusahaan. Firdaus pun jatuh cinta. Cinta membuat Firdaus seakan-seakan menggengam erat seluruh dunia ditangannya. Dunia menjadi semakin melebar dan matahari bersinar lebih terang dari sebelumnya. Sayangnya, harapan Firdaus yang bermekaran oleh cinta tiba-tiba layu. Ibrahim kawin dengan anak gadis sang presiden direktur.

Luka batin yang menghunjam membawanya kembali ke dunia pelacuran. Bagi Firdaus, “Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip-prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka dengan menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang disalahgunakan. Sesuatu yang dapat dijual.”  (PdTN: 145)

Sosok Liyan dalam Budaya Patriarkhi

Sebagai seorang feminis, Nawal menyadari bahwa dalam budaya patriarkhi perempuan selalu dipandang sebagai sosok liyan. Sebagaimana Simon de Beauvoir meyakini bahwa ada dua jenis hubungan, yakni laki-laki yang mengklaim dirinya sebagai sang diri dan perempuan sebagai yang lain (liyan), atau laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Beauvoir menyadari tidak mudah bagi perempuan untuk keluar dari penderitaannya karena sudah begitu tertanam peranan stereotip perempuan di masyarakat. Tetapi bila bertekad untuk tidak ingin diperlakukan sebagai sosok liyan maka perempuan harus melancarkan strategi yang jitu.

Nawal el-Sadawi ingin menyadarkan bahwa pembebasan kaum perempuan dari budaya patriarkis dan belenggu sistem sosial yang ada hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri. Perempuan harus memulainya dari pribadinya masing-masing. Perempuan harus bisa terbebaskan dan berani menyingkap tabir pikiran mereka dari kesadaran palsu dan sikap lemah yang selama ini melekat. Dengan kesadaran baru pada diri perempuan inilah yang membuat kaum perempuan tidak berbeda dengan kaum lelaki. Hal ini senada dengan ide strategi jitu Beauvoir.

Lewat kisah Firdaus, Nawal juga menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum laki-laki. Sebuah kritik sosial yang keras dan pedas atas budaya patriarkhi yang masih melingkupi masyarakat di negara-negara berkembang atau yang dikenal dengan negara dunia ketiga. Kita tahu bahwa negara-negara Arab terkenal sebagai masyarakat yang kedudukan perempuannya dianggap amat terbelakang. Tidak saja dibandingkan dengan negara-negara Barat bahkan dengan masyarakat di Asia dan Amerika Selatan. Namun demikian, Mesir termasuk negara yang lebih dahulu melakukan modernisasi di semenanjung Arab dan negara Islam lainnya di Asia Tengah.

Kritik yang tajam dan pedas terhadap kebobrokan sistem politik juga bisa kita temui pada cerita Firdaus yang menolak seorang Kepala Negara. Kita mungkin akan terheran-heran, bagaimana seorang perantara yang membawa misi ini menggunakan standar moral ganda. Ia mengatakan bahwa melayani seorang kepala negara adalah sebuah tindakan patriotik. Firdaus menyadari bahwa seorang perantara tentu saja hanya menjalankan perintah. Tak ada beda baginya menjalankan misi patriotisme mengajak pelacur melayani kepala negara ataukah mendapatkan perintah membunuh. Namun membungkus tindakan yang boleh dibilang amoral dengan istilah patriotik sangatlah lucu.

Kisah Firdaus membongkar dunia yang penuh dusta, melihat kebohongan-kebohongan, dan mengendus kemunafikan di sekitar. Firdaus sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dan harus membayar mahal dengan kematian. Keberanian untuk menanggung resiko atas perbuatannya menjadi pembelajaran berharga bagi semua orang.                

Judul Buku      : Perempuan Di Titik Nol

Penulis             : Nawal el-Sadawi

Penerbit           : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun Terbit    : 2014

Tebal Buku      : 176 Halaman

*Penulis adalah Ketua Divisi Ideologi, DPP API Kartini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here