Looks like my mother is crying

I wonder what she scared

Is she dreaming of heaven

A life without a care

Is she think of life or death?…

(I Wonder, Nuno Bettencourt)

 

Dalam adat ketimuran, orangtua dipandang sebagai anggota keluarga yang wajib dihormati dan menjadi tanggung jawab anak setelah dewasa dan biasanya anak perempuan atau istri anaknya-lah yang bertanggungjawab akan hal ini. Nancy Folbre menyebut ini sebagai ekonomi perawatan yaitu nilai yang seharusnya juga dibayarkan dalam perekonomian keluarga. Tanpa bermaksud mengabaikan kaum lanjut usia, sebetulnya harus dilihat juga bahwa kaum lanjut usia ini memiliki kehidupan yang berbeda dengan generasi penerusnya. Memiliki pola pikir dan cara hidup yang berbeda.

Mereka sudah tidak mampu melakukan kegiatan fisik, sementara di lain pihak anak-anak dan cucunya masih aktif dengan kegiatan fisik mereka. Selain itu para lanjut usia ini sudah tidak memiliki power atas anak-anak dan cucunya. Seringkali mereka merasa menumpang pada anak-anak mereka dan kesepian karena anak-anak dan cucunya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Kebutuhan para lanjut usia ini sebenarnya sederhana, perawatan secara fisik dan rohani dalam arti butuh teman untuk bicara. Hal kedua yang biasanya sulit untuk terpenuhi karena bercakap-cakap dengan kaum lanjut usia membutuhkan kesabaran tersendiri. Panti wredha bisa menjadi alternative karena di panti wredha para lanjut usia ini dapat berkumpul dengan orang-orang se-usia dan se-jamannya sehingga dapat melakukan percakapan dengan lebih leluasa.

Hingga saat ini panti wredha masih dipandang negatif, seperti tempat penyingkiran atau pembuangan anggota keluarga. Padahal jika dilihat fungsi dan posisinya panti wredha justru bias menjadi tempat yang bermanfaat. Ada beberapa panti wredha yang menerapkan biaya khusus per bulannya, tariff ditentukan sesuai fasilitas dan pelayanan sementara panti wredha milik pemerintah dan yayasan sosial biasanya tidak dipungut bayaran.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak panti wredha yang belum menyediakan fasilitas dan pelayanan yang layak sehingga penghuninya merasa tidak diperlakukan secara manusiawi. Para lanjut usis ini, sebagian ada yang sudah pikun, sakit, membutuhkan kursi roda dan ada pula yang harus terus berbaring di tempat tidur. Ketersediaan tenaga perawat juga terbatas sehingga kadang tidak semua penghuni mendapat pelayanan penuh. Kesabaran dan ketelatenan seorang perawat dan pengurus panti sungguh dibutuhkan karena para lanjut usia ini sudah tidak dapat merawat dirinya sendiri.

Pemiskinan perempuan menghasilkan kaum perempuan yang di masa tuanya menjadi lebih menderita lagi. Untuk mereka inilah kita harus memikirkan tempat yang layak di masa akhir hidupnya.

Oleh karena itu, organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan harus dapat mendorong pemerintah dan badan-badan sosial untuk mendirikan panti wredha dengan jumlah yang mencukupi. Pendirian ini dapat didasarkan pada jumlah usia lanjut pada suatu wilayah (kabupaten). Panti wredha yang didirikan selayaknya memiliki fasilitas dan perawatan yang memadai, dengan jumlah perawat dan skill yang sesuai. Fasilitas yang disediakan juga termasuk mobil jenasah hingga prosesi pemakaman. Anggaran untuk panti wredha ini pun diharapkan dapat masuk dalam rencana anggaran daerah sehingga panti tidak perlu menerapkan tarif bagi para calon penghuninya.

Semoga harapan ini dapat terwujud sehingga tidak perlu ada lagi kaum lanjut usia yang kebingungan di masa tuanya.

 

Ernawati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here