Oleh: Erna Wati

 

Dalam keadaan dipingit, pikiran Kartini tetap bekerja. Ia mulai berdamai dengan situasi dan segera beradaptasi. Kartini membaca banyak buku dan menuliskan gagasannya. Kartini tidak mau menyerah. Ia menyadari bahwa kelak mungkin saja Ia tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkan gagasan-gagasannya. Namun dengan menuliskannya, Ia berharap suatu saat nanti akan ada orang lain yang membaca dan mewujudkan cita-citanya.

Waktu yang kemudian membuktikan peran literasi yang sudah dimulai oleh Kartini lebih dari 100 tahun yang lalu. Di jaman itu Kartini hanya mampu menuliskannya dengan tangan dan tidak ada ruang sosial media untuk menuangkan gagasannya. Memang Kartini juga beberapa kali mengirimkan tulisannya ke sebuah majalah dalam bahasa Belanda. Belum ada media untuk rakyat’ pribumi. Kartini juga belum memiliki ruang penyimpanan dokumen seperti di jaman ini. Semua tulisannya, terutama terdokumentasikan melalui surat-surat yang ia kirimkan pada para sahabatnya

Di jaman millennial ini, perempuan memiliki akses pada literasi. Ruang publikasi pun terbuka luas. Sudah sewajarnya jika kita mampu melakukan lebih dari yang sudah dilakukan oleh Kartini.

Kita seharusnya lebih mampu untuk mengoptimalkan peran sosial dan politik serta mengembangkan kemampuan diri. Melalui berbagai media yang tersedia, Kita dapat menyuarakan ketertindasan kaum perempuan dan memperkuat solidaritas diantara kaum perempuan dan kelompok-kelompok tertindas lainnya.

Kaum perempuan kini tidak lagi menghadapi pingitan. Namun gerakan perempuan masih diperlukan untuk menjawab berbagai persoalan yang di hadapi kaum perempuan di belahan dunia manapun. Struktur relasi kuasa sosial di masa kini berbeda jauh dengan jaman Kartini hidup. Perlindungan-perlindungan personal terhadap perempuan berbasis keluarga dalam tradisi patriarkhi, dianggap tak sanggup lagi menjawab persoalan ketertindasan kaum perempuan akibat perubahan relasi gender dalam masyarakat industrialisasi berbasis modernisasi.

Dalam salah satu suratnya, Kartini juga menuliskan pendapatnya tentang agama. Pandangannya cukup maju. Saat ini pun kita memiliki pemahaman bahwa agama seharusnya menjadi pegangan etis dan etos dalam membaca situasi kaum perempuan di jaman milenial. Oleh karena itu dibutuhkan cara baca atau metode yang terbarukan sehingga agama tetap relevan sebagai pemandu perubahan dan penuntun yang tepat tanpa menghakimi.

Riset-riset dalam tinjauan sosial budaya dan ekonomi perlu dilakukan dengan kajian analisis gender karena hasil-hasil penelitian yang dibahas dalam ruang akademik, kita melihat bahwa laju modernisasi dan akselerasi pendidikan tidak secara otomatis terhubung dengan kesejahteraan perempuan.

Bahkan sebaliknya, yang terjadi justru penyingkiran sumber-sumber ekonomi dan ruang hidup perempuan akibat adanya alih fungsi lahan baik untuk perumahan, industrialisasi  maupun penunjangnya seperti jalan tol dan bandara. Dampak yang dirasakan kaum perempuan adalah pemiskinan kaum perempuan, maraknya praktik perkawinan dibawah umur, perdagangan perempuan, pengiriman perempuan sebagai TKW dan kekerasan berbasis gender.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena dalam prakteknya kerangka modernisasi dalam industri tidak melakukan kalkulasi atas peran perempuan dalam bidang ekonomi sehingga terjadi penyingkiran perempuan dari arena sumber nafkahnya. Masih dominannya sistem patriarkhi membuat kaum perempuan tetap memiliki ketergantungan pada kaum laki-laki yang lebih terfasilitasi dengan pekerjaan pengganti dan pola pengasuhan anak. Terjadi bias gender dalam rancang bangun industrialisasi yang secara nyata melemahkan posisi tawar kaum perempuan

Di era milenial ini, gerakan literasi dapat tumbuh dengan lebih maju dan diharapkan mampu menjawab tantangan untuk gerakan penyadaran perempuan. Dibutuhkan lebih banyak lagi penulis dan Jurnalis perempuan yang mampu menempatkan perspektif gender di berbagai sektor

Menjadi perempuan bukan sekedar menjadi istri dan ibu. Menjadi perempuan adalah menjadi bagian dari seluruh kehidupan dan membangun kehidupan. Selamat memperingati Hari Kartini.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here