Oleh: Erna Wati

 

Jika Kartini masih hidup, saat ini usianya sudah mencapai 139 tahun. Kini seabad lebih setelah kematiannya, Kartini masih terus dikenang dan bahkan tanggal lahirnya diperingati setiap tahun. Surat-suratnya masih tetap dibaca dan dicetak ulang. Bahkan didiskusikan dan diperdebatkan

Nyatalah bahwa Kartini memang seorang perempuan yang istimewa. Walaupun ada banyak perempuan pejuang di masa sebelum dan sesudahnya. Kartini tetap menempati posisi istimewa. Tentunya itu pula yang menjadi latar belakang bagi Pramoedya Ananta Toer untuk menuliskan kisah Kartini dari sudut pandangnya

Hal ini dapat dipahami terlebih setelah membaca surat-surat Kartini dan menonton film-film yang mengisahkan perjalanan hidupnya, tidak sulit untuk jatuh kagum pada keteguhan hati dan keberanian Kartini. Hingga saat ini kita seakan tidak kehabisan bahan untuk mengulas sosoknya. RA Kartini, seorang perempuan bangsawan Jawa yang hidup di abad 18 pada masa kolonial Belanda. Pingitan yang dijalaninya tidak serta merta mengungkung pikirannya, bukan seperti katak dalam tempurung

 

Melihat dengan hati

Untuk dapat memahami gagasan-gagasan Kartini bahkan menyelami pikirannya, kita perlu melihatnya dari berbagai sisi. Menelaah situasi dan kondisi saat itu yang melatar belakangi pemikiran Kartini. Situasi ekonomi politik kaum pribumi yang menjadi masyarakat terjajah dan posisi kelas bangsawan dalam sebuah tatanan masyarakat feodal. Perkembangan agama dari saat penaklukan dan keruntuhan Majapahit hingga berada dibawah pemerintahan kerajaan Demak. Dilanjutkan kemudian dengan perubahan pola kehidupan masyarakat semenjak kedatangan bangsa-bangsa luar. Dan yang paling utama adalah bagaimana isi hati dan jiwa Kartini dalam memandang situasi ini, baik di dalam maupun di luar tembok. Dikompilasikan dengan berbagai bacaan yang didapatnya serta diskusi-diskusinya bersama Letsi, bapak dan ibu Abendanon

Sesungguhnya terjadi pergumulan dalam jiwa Kartini yang berkecamuk sejak awal Ia membaca kisah kepahlawan tokoh-tokoh termasuk sosok Joan De Arc. Sungguh luar biasa, betapa seorang Kartini sebagai perempuan bangsawan yang perilakunya diatur secara ketat dapat memimpikan diri melawan kolonial Belanda dan membela bangsanya sama seperti yang dilakukan oleh Joan De Arc. Kesadaran demi kesadaran mulai terbangun dalam jiwanya, mengikuti intuisi hatinya yang luluh melihat penderitaan kaum pribumi. Maka muncullah gagasan untuk menunjukkan pada bangsa luar bahwa pribumi di Hindia Belanda punya keahlian yang tidak kalah dibanding Cina dan Perancis. Pada masa itu Kartini sudah memiliki gagasan dan rancangan untuk memasarkan produk lokal guna meningkatkan taraf hidup rakyat pribumi.

Selama seabad lebih Kartini termashur karena gagasannya mengenai pendidikan untuk kaum perempuan. Namun dengan menyelami hatinya, kita dapat melihat bagaimana gagasan tersebut juga berkaitan dengan apa yang Ia rasakan. Saat melihat penderitaan sesama, seringkali yang terbersit dalam benak kita adalah mengulurkan tanga sebagai tanda simpati, bukan empati. Kita melihat dengan mata, bukan dengan hati, dan Kartini melakukannya, melihat dengan hati. Manusia memiliki petan sosial dan politik dalam kehidupannya. Kartini telah melakukan kedua peran tersebut pada usia belia, pada masa kaum perempuan bangsawan masih dibatasi ruang geraknya

Sejak kecil Kartini sudah dihadapkan pada kenyataan, hidup terpisah dari ibu kandungnya. Dipaksa untuk menerima bahwa derajatnya lebih tinggi dari ibu kandungnya sehingga ibunya ditempatkan di rumah yang terpisah darinya. Kartini kecil tidak serta merta menerima pandangan ini. Dari surat-suratnya dapat diketahui betapa pikiran dan jiwanya menolak. Terjadi pergolakan emosi yang berkecamuk antara sedih, kecewa, marah dan merindukan kasih sayang ibu.

Gejolak jiwa dan pemikiran Kartini menjadikannya sosok perempuan yang dianggap aneh karena pemberontakannya. Hal ini terutama ditunjuk oleh ibu tua dan kakak kandungnya yang sulung. Kartini mengakui betapa ia merasa kesepian karena tidak ada anggota keluarganya yang mau memahami jalan pikirannya. Namun keadaan berubah ketika ke 2 adik perempuannya masuk dalam masa pingitan dan ditempatkan dalam ruang yang sama dengan Kartini. Saat itulah Kartini baru benar-benar merasa memiliki saudara karena bertiga mereka sering bercakap-cakap untuk mengisi waktu sehingga Kartini leluasa menjelaskan gagasan dan pandangannya mengenai berbagai hal. Kedua adik perempuannya mulai menangkap pemikiran Kartini dan mendukungnya. Bahkan kelak, adik Kartini-lah yang memulai sekolah Kartini. (Bersambung…)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here