Oleh: Nuraini Hilir*

 

Ketika kita bicara tentang memenangkan Pancasila, kita sedang mengejawantahkan sebuah nilai moral sosial yang besar. Pertama, dia membutuhkan pertanggung jawaban sosial, politik dan kultural yang besar dari pemerintah. Kedua, elemen-elemen penggerak yang mempunyai kesadaran, dalam hal ini organisasi masyarakat atau partai politik harus mempunyai andil. Ketiga, masyarakat kita yang terbagi dalam berbagai kelompok dan struktur sosial juga harus berperan aktif.

Mereka itulah aktor yang bertanggung jawab dalam memenangkan Pancasila. Intinya kita semua bertanggung jawab dalam memenangkan Pancasila.

Saya sering turun ke basis dan mengunjungi warga masyarakat, misalnya hari ini saya berkeliling ke kampung derek di Petogokan. Pertanyaan yang saya lontarkan kepada mereka adalah, “Siapa yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan nasib kita sebagai bangsa dan negara. Siapa yang bertanggung jawab menyelamatkan nasib kita sebagai entitas masyarakat?”

Ketika saya bicara di kalangan ibu-ibu, tentu saja saya bicara dari apa yang mereka butuhkan dan apa yang menurut mereka penting. Sama halnya ketika kita mengaplikasikan nilai-nilai moral yang dijabarkan dalam sila-sila Pancasila. Pengejawantahan Pancasila itu seharusnya sudah terbentuk sejak NKRI ini dideklarasikan sebagai sebuah negara, dan secara konsisten dilakukan.

Persoalannya pengejawantahan Pancasila itu akhirnya menjadi carut-marut dan menjadi sangat mahal di negeri ini.

Perdebatan lahirnya Pancasila 1Juni 1945 atau 18 Agustus 1945 itu saja belum selesai sampai saat ini. Presiden Joko Widodo akhirnya menetapkan Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni dan menetapkannya sebagai hari libur nasional. Hal tersebut seharusnya memudahkan kita dalam mengkongkritkan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Saya menilai bahwa Pemerintahan Joko Widodo adalah pemerintahan yang mempunyai kepedulian kepada masyarakat secara keseluruhan dan itu diwujudkan dalam program Nawacitanya. Ketika saya Tanya kepada ibu-ibu kader, mengapa mendukung Jokowi? Ibu-ibu menjawab, “Karena Jokowi sudah membangun Kampung Derek di Petogokan ini.”

Jawaban mereka sangat sederhana, berangkat dari hal-hal yang bersifat fisik tetapi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat terutama Kelurahan Petogokan.

Bicara tentang Pancasila 1 juni, adalah bicara tentang hidup kita hari ini, nafas kita hari ini. Dalam kerangka pemerintahan akan dijawab dengan kebijakan-kebijakan yang berskala besar. Sementara di kalangan masyarakat adalah bagaimana membumikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila bukan sesuatu hal yang perlu disakralkan. Perdebatan tentang hari lahirnya Pancasila bila terjadi terus-menerus, dikhawatirkan akan semakin menjauhkan Pancasila dari kehidupan kita. Sehingga kita mengharapkan bahwa Pancasila selalu hadir dalam keseharian kita.

Dalam konteks gerakan perempuan hari ini, kita tidak menutup mata bahwa sampai saat ini kondisi ketertinggalan perempuan masih cukup tinggi. Bagaimana kalangan aktivis dan gerakan perempuan menjadikan Pancasila ini sebagai alat juang sekaligus cita-cita dalam merubah kondisi perempuan dan kehidupan masyarakat.

Bicara tentang Pancasila kita berarti juga bicara tentang Bhineka Tunggal Ikha, bicara tentang nasionalisme, bicara tentang suku, adat dan ras. Dan saat ini kita sedang dihadapkan dengan masalah yang sangat besar dalam merajut kebhinekaan.

Bagi saya memang tidak mudah memenangkan Pancasila secara konsisten. Pancasila bukanlah hanya angan-angan belaka, tetapi bagaimana membunyikan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam gerak perjuangan kaum perempuan.

 

*Materi disampaikan dalam sebuah diskusi dengan tema: Menangkan Pancasila di KPP PRD tanggal 1 Juni 2017.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here