Dokumentasi API Kartini

SERIKAT Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Aliansi Perempuan Indonesia Kartini (Âpi Kartini) mengundang saya untuk memberikan materi pelatihan terkait dengan metode dan teknik-teknik sederhana dan mudah diterapkan oleh para orangtua dan pendamping untuk bisa membantu mengatasi proses pemulihan trauma pada anak korban pencabulan dan kekerasan seksual.

Tentu saja saya amat mengapresiasi upaya yang dimbil para sahabat di SRMI
dan Api Kartini menggelar “Pelatihan Konseling dan Terapi untuk Para Orangtua ďan Pendamping Mengatasi Trauma Kekerasan Seksual Pada Anak” itu pada Kamis (25/2) lalu.

Sebab, di tengah hingar-bingar berlangsungnya “panen raya panjang” kejahatan seksual yang tak jua menunjukkan tanda-tanda jeda, maka penyelenggaraan pelatihan konseling dan terapi seperti diinisiasi  SRMI dan Api Kartini merupakan sebuah langkah kecil yang teramat penting, setidaknya untuk menjawab secara konkret masalah yang muncul dari dampak kejahatan seksual yang dialami anak.

Terlebih kegiatan dan program sejenis itu masih “sunyi”, alias nyaris tak terdengar diselenggarakan oleh banyak pihak, termasuk oleh lembaga-lembaga pemerintah pemegang kuasa anggaran yang berada pada leading sektor perlindungan anak, maupun pendidikan berbasis keluarga dan komunitas.

Padahal di era panen raya  kejahatan seksual ini telah memunculkan begitu banyaknya pelaku, dan tentunya begitu banyak lagi korban, dengan wilayah persebaran yang luas di pelbagai sudut-sudut tanah air tercinta.

Entah, dalam satu dekade terakhir ini, misanya, sudah berapa banyak persisnya jumlah anak-anak korban kejahatan seksual di seluruh penjuru nusantara yang ditangani secara baik lewat terapi pemulihan dan berhasil meningkatkan kembali harga diri dan kepercayaan diri anak korban, terlepas apapun metode yang diterapkan?

Berapa banyak pula anak-anak korban kejahatan seksual dari seluruh penjuru nusantara yang lewat serangkaian terapi kemudian memiliki kemampuan untuk
IDMK (Ikhlas dan Damai Menerima Keadaan)?

Dan berapa banyak anak-anak korban kejahatan seksual yang diterapi itu akhirnya kembali tegak berdiri melanjutkan kehidupannya secara normal, bahkan dapat melakukan lompatan-lompatan besar untuk berprestasi?

Lantas, bagaimana pula selama ini kehidupan mayoritas anak-anak korban kejahatan seksual yang sama sekali tidak pernah menerima terapi pemulihan?

Entahlah, apakah lembaga-lembaga negara yang selama ini berada dalam leading sector penjaminan pemenuhan hak-hak anak dan penyelenggaraan perlindungan anak, memiliki data dan analisis atas pertanyaan-pertanyaan itu, untuk kemudian bergegas secara cekatan melakukan sesuatu?

Bila ternyata jawabannya negatif, betapa mengerikannya fungsi dan peran negara yang dijalankan oleh pemerintahan ini di tengah-tengah era panen raya panjang kejahatan seksual terhadap anak?

Tragedi Kemanusiaan yang Senyap

Kepungan dari delapan penjuru angin potensi kejahatan seksual terhadap anak itu benar-benar nyata. Hal itu mengingat proses perusakan otak sudah sejak lama berlangsung, sebagai dampak mengerikan dari keterpaparan pada kontens pornografi dan pornoaksi, dalam dosis ringan hingga berat, telah menyerang berjuta-juta orang dewasa maupun anak-anak. Cakupan keterpaparan itu begitu luas dan massifnya, bahkan mendekati sempurna.

Tanpa disadari dan tanpa pengakuan tegas dari negara dan publik, sesungguhnya telah berlangsung sebuah tragedi kemanusiaan massal yang senyap dan terus meluas, yang berlangsung setidaknya dalam rentang satu dekade terakhir ini, yang diakibatkan oleh keterpaparan pornografi dan pornoaksi, sebagai salah satu dampak buruk yang ikut menunggangi era keterbukaan informasi dan maraknya penggunaan internet.

Lewat keterpaparan pada kontens pornografi dan pornoaksi itu, dari dosis ringan hingga berat, perlahan tapi pasti, berlangsunglah proses perusakan hebat struktur otak pada jutaan orang yang telah terpapar itu.

Dari perubahan pada struktur otak yang rusak akut itu, pada gilirannya otak rusak itu pun akhirnya memiliki kemampuan melakukan sabotase terhadap fungsi-fungsi luhur kemanusian yang telah mengecil dan mengkerut, yang melekat di otak orang-orang yang terpapar pornografi dan pornoaksi itu.

Perlahan tapi pasti, pada otak orang-orang yang telah terpapar parah kontens pornografi dan pornoaksi, maka orang bersangkutan secara otomatis mampu menjelma menjadi monster-predator ganas yang siap memangsa calon-calon korban, dari anak-anak maupun dewasa, kapan pun dan dimana pun.

Boleh jadi secara fisik maupun perangai keseharian, tak sedikit dari para monster-predator ganas itu justru tampil sebagai pribadi-pribadi baik, seakan tidak mengalami kehancuran pada fungsi kemanusian di dalam otaknya.

Padahal, sebenarnya otak mereka telah mengalami perubahan fungsi secara revolusioner, akibat keterpaparan pornografi dan pornoaksi, dari yang awalnya berdosis ringan hingga menuju dosis berat. Kontrol moral yang dijalankan oleh fungsi luhur kemanusian yang terletak di dalam otaknya, telah mengalami kehancuran dasyat.

Di dalam otak orang yang telah kecanduan pornografi dan pornoaksi terus berlangsung kenaikan level tuntutan hasrat seksual seiring dengan kenaikan level kepuasan seksual.

Artinya, dari yang awalnya seseorang sudah puas hanya sekedar melihat perempuan molek dengan pakaian renang, misalnya, maka menerbitkan penasaran untuk tahu lebih jauh dan terdorong untuk melihat kemolekan polos tanpa busana. Tunailah rasa penasarannya seiring terbitnya rasa puas dan senang saat melihat gambar perempuan bugil tanpa busana itu.

Efek rasa puas dan senang itu tak muncul lagi bila yang dilihatnya ternyata yang itu-itu saja. Tuntutan yang lebih tinggi pun menyeruak untuk melihat blue film, misalnya. Setelah rasa penasaran melihat blue film pertamanya hilang, maka blue film yang ingin ditonton pun tak ingin yang itu-itu saja.

Ia pun ingin yang lebih bervariasi lagi, yang membentang dalam pilihan blue film yang teramat luas yang mudah diaksesnya kapanpun Ia mau. Mulai dari film persenggamaan “normal”, hingga yang abnormal, bahkan persenggamaan dengan sesama jenis dan dengan binatang.

Dari yang tadinya sudah merasa puas dengan sekedar menonton blue film, kemudian naik lagi level tuntutannya untuk merasakan sendiri seperti apa sih ngeseks itu.

Lalu setelah sekali terpuaskan hasrat seksualnya, entah dengan siapa, lalu ia ingin ngeseks lagi dengan aneka fantasi sebagaimana yang telah tertanam di memori otaknya saat menyaksikan begitu banyak film porno.

Maka ia pun bisa terdorong untuk melakukannya dengan beragam cara, beragam
gaya, beragam orang. Terbuka pula kemungkinan dari hasratnya untuk terdorong melakukan seks yang abnormal, bahkan bisa tega melakukan incest dengan darah dagingnya, dan siapapun yang paling meungkinkan untuk dijadikan objek.

Hanya dengan sebuah picu tertentu dan kesempatan tertentu, ketika dorongan seksual yang menjijikkannya muncul, maka ia akan bisa langsung berubah menjadi monster-predator buas yang tak berperikemanusiaan. Betapa sulitnya fungsi luhur kemanusiannya yang telah mengkerut itu melawan hasrat dan fantasi seksual liarnya yang menjijikkan. Termasuk untuk menjadikan anak-anak sebagai objek seksualnya.

Itulah yang bisa menjelaskan mengapa, misalnya, ada tetangga yang selama ini kelihatan baik, ternyata bisa tega mencabuli anak kecil, misalnya.

Atau, ada paman yang mengaku khilaf setelah berhasil dibekuk lantaran menyetubuhi keponakannya yang masih bayi usia 6 bulan.

Atau, ada ayah yang berprofesi sebagai sopir angkot merasa “ketiban rejeki” menjalani hidup sebagai duda yang harus mengasuh dan tinggal bersama anak perempuannya yang masih usia SMP.

Hal itu lantaran ia semakin bebas menyetubuhi anak perempuan kandungnya setiap hari. Kebiasaan yang telah dilakukannya sejak ia belum bercerai dengan istrinya, yang sejak usia 5 tahun tubuh anaknya dengan penuh ketelatenan  telah dicicipi rutin ayah bejadnya itu.

Atau ada anak usia balita, yang begitu enjoynya melakukan threesome bersama teman-teman sepermainan berulangkali, ketika orangtuanya tidak ada di rumah. Kebiasaan itu berawal setelah beberapa waktu sebelumnya, anak itu bersama satu teman laki-laki dan satu teman perempuan seusianya, tanpa sengaja nonton film porno di VCD Player yang lupa diamankan kedua orangtuanya yang berangkat kerja.

Atau, ada selebritis kondang yang mencitrakan diri rajin ibadah dan berpuasa Daud, namun para korban penyimpangan seksualnya akhirnya melaporkan tindakan sinting sodomi yang dialaminya yang dilakukan oleh selebritis kondang itu.

Nihilnya langkah-langkah serius yang massif dan berkelanjutan dari pemerintah untuk menghentikan proses penciptaan para monster-predator ganas itu, ternyata seiring ketiadaan langkah-langkah penting dan massif yang mampu memulihkan kondisi kejiwaan para korban anak, dan perempuan.

Dan itu berkelindan dengan ketiadaan komitmen pemerintah mengambil langkah-langkah strategis dan massif menghentikan laju perusakan struktur otak dan fungsi luhur kemanusiaan yang dibawa oleh dampak buruk kontens pornografi dan pornoaksi.

Maka sempurnalah sudah tragedi kemanusiaan massal nan senyap ini, bukan?

Sehingga, bagi para orangtua di mana pun Anda berada, di tengah era panen raya panjang kejahatan seksual yang terus berlangsung ini, bukan saja harus  melipatgandakan perhatian dan perlindungan terhadap buah hatinya dan orang-orang tercintanya agar tidak menjadi korban.

Namun juga harus memiliki kewaspadaan ekstra untuk memastikan anak-anak anda, dan juga orang-orang tercinta Anda, tidak menjadi pelaku kejahatan seksual.

Dan tentu, bila ada anggota keluarga yang menjadi korban maupun menjadi pelaku kejahatan seksual, sungguh kita tidak kehendaki hal itu terjadi, bukan?

Oleh Nanang Djamaludin, Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Hypnoparenting dan Kota Layak Anak (telah dipublikasikan di rmoljakarta.com pada tanggal 27 Februari 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here