12342527_1268971026461635_352494807984672065_n
Jakarta, 1 Desember 2015, bertempat di Pusat Budaya @America di gedung Pacific Place Mall, Jalan Jendral Sudirman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diselenggarakan diskusi dengan tema “Violence Against Women”. Tema ini diambil dalam rangka peringatan “Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan” yang jatuh pada tanggal 25 November.

Diskusi menghadirkan 4 panelis dari Yayasan Pulih, UN Women, Sapa Institut dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Diskusi ini dihadiri beberapa organisasi perempuan dan aktivis mahasiswa. Sebelum diskusi dimulai diputar film documenter yang menggambarkan kekerasan yang dialami perempuan dan anak dan perjuangan perempuan melawan kekerasan. Ada wawancara dengan beberapa tokoh dan aktivis perempuan.

Livia Iskandar dari Yayasan Pulih yang menyatakan bahwa kekerasan membawa dampak Psikologi pada para penyintas, sehingga mereka perlu mendapatkan pendampingan. Rasa sakit pada fisik lebih mudah disembuhkan daripada rasa sakit yang melekat pada kejiwaan mereka. Mengobati kejiwaan akibat traumatik membutuhkan waktu yang panjang dan mahal ongkosnya. Yayasan Pulih menyediakan rumah aman untuk pemulihan bagi perempuan korban kekerasan.

“Masih banyak undang-undang atau peraturan yang tidak berpihak pada perempuan. Lalu pertanyaannya: di manakah tempat yang aman bagi perempuan dan anak? Jika hukum tidak ditegakkan, jika hukum masih berlaku tidak adil terhadap perempuan, apa yang harus kita lakukan?” tanya Justina Rostiawati dari UN Women.

Di pihak lain, Sri Mulyati dari Sapa Institut mengulas tentang cara berpikir masyarakat yang selama ini salah. KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) selama ini masih dianggap ranah privasi, sehingga tetangga, teman, bahkan orang tua atau saudara yang mengetahui kejadian tidak mau terlibat dengan melerai atau menengahi. Padahal para korban selalu mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekat.

Harapannya diskusi ini tidak sekedar dan berakhir menjadi sebuah pembicaraan, tapi menjadi tindakan nyata bagaimana memerangi kekerasan terhadap perempuan. Nina Nurmila dari Komnas Perempuan mengajak berbagai komponen masyarakat, baik itu aktivis HAM perempuan, Pemerintah, maupun masyarakat secara umum untuk melakukan “Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”. Kampanye ini merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye ini berjalan selama 16 hari itu dimulai dari tanggal 25 November hingga tanggal 10 Desember.

Minaria Christyn, Ketua API-Kartini yang ikut hadir dalam diskusi berpendapat, bahwa kehadiran kawan-kawan mahasiswa menjadi penting sebagai ajang untuk berkampanye atau mensosialisasikan masalah kekerasan terhadap perempuan lebih luas. Dan diharapkan dari diskusi ini, mereka sebagai pemuda harapan bangsa akan menularkan pemahaman yang mereka dapatkan, sehingga diskusi-diskusi seperti ini akan berlanjut ke tiap-tiap kampus hingga ke kampung-kampung. Biasanya, diskusi semacam ini, sebagian besar dihadiri oleh organisasi-organisasi perempuan, namun dengan melibatkan mahasiswa bisa mengeksplor pendapat para mahasiswa menanggapi kekerasan terhadap perempuan yang kerap terjadi. Dari diskusi ini peserta mendapatkan beberapa tips untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak yang bisa dilakukan dari hal-hal yang paling sederhana.

Namun, ada yang luput dari pembahasan keempat panelis tersebut, mereka tidak menjelaskan persoalan dasar kaum perempuan. Menurut API-Kartini, kemiskinan adalah faktor utama yang menyebabkan kaum perempuan menerima perlakuan buruk di tengah masyarakat, bahkan keluarga. Ketidakmandirian perempuan menjadi alasan kuat mengapa perempuan selalu dianggap masyarakat klas 2, sehingga persoalan-persoalan kasuistik kerap menimpa kehidupan kaum perempuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here