Mengapa Poligami Harus Ditolak?

Pembahasan soal poligami memang dianggap satu hal yang krusial. Menimbulkan pro dan kontra diberbagai kalangan. Kehadiran agama dan adat turut mewarnai menjamurnya sesi saling adu pendapat mengenai kehadiran poligami.

Dalam pandangan feminis, hadirnya poligami menjadi mengundang berbagai polemic dan kritikan. Kalangan feminis berpendapat bahwa hadirnya poligami akan menyebabkan banyak kerugian berupa kekerasan dan ketidak adilan, bukan hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi anak-anak.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa API Kartini menolak poligami?

  1. Poligami merupakan eksistensi patriarki dalam perkawinan

Patriarki adalah ideologi yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa dalam struktur sosial atau masyarakat; sedangkan perempuan dianggap sebagai masyarakat kelas dua/ ‘Second Sex’.

Dalam masyarakat patriarki, laki-laki ditempatkan sebagai raja dalam keluarga. Sehingga menjadi penguasa atas istri dan anak-anaknya. Sehingga dalam perkawinan, laki-laki punya kekuasaan dalam meninggalkan atau menambah istri baru. Jadi, dalam masyarakat patriarki, kekuasaan seorang laki-laki ditunjukan antara lain melalui penguasaan atau pemilikan terhadap sejumlah istri atau perempuan. Persis dengan masyarakat perbudakan, dimana kekuasaan pemilik budak ditunjukan dari berapa jumlah budak yang dimilikinya. Begitu juga dengan masyarakat feodal: raja dan bangsawan laki-laki menunjukan kekuasaannya dengan memiliki banyak istri dan perempuan.

 

  1. Poligami merupakan sarana eksploitasi tubuh perempuan

Salah satu ciri dari masyarakat patriarki—yang berlanjut dibawah kapitalisme—adalah melihat tubuh perempuan sebagai objek seksual dan sarana reproduksi sosial. Pada umumnya laki-laki melakukan poligami didorong oleh pemenuhan nafsu seksual yang tidak cukup pada satu perempuan saja. Atau dalam kasus lain, karena istri pertama tidak bisa menjalankan fungsi reproduksi, maka laki-laki berhak mencari istri lain untuk reproduksi. Hal ini diperkuat juga dengan lahirnya UU Perkawinan nomor 1 tahun 1974 yang menempatkan perkawinan sebagai pemenuhan biologis.

 

  1. Poligami memicu terjadi kekerasan terhadap perempuan

Masyarakat patriarki juga menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah diluar rumah, sedangkan istri sebagai pekerja rumah tangga (domestik). Hal ini dapat memicu terjadi kekerasan perempuan dalam rumah tangga apabila keluarga mengalami kesulitan ekonomi. Sementara, istri yang penghidupannya bergantung pada suami, akan pasrah menerima keadaan ini. Kekerasan juga dapat berupa rasa cemburu karena perbedaan perlakuan suami terhadap istri-istrinya. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK) pernah mencatat bahwa dari 58 kasus poligami yang didampingi dari kurun waktu tahun 2001 hingga tahun 2003 memperlihatkan adanya bentuk-bentuk kekerasan terhadap istri dan anak-anak mereka—tekanan psikis, penganiayaan fisik , penelantaran istri dan anak-anak, pengacaman dan terror, serta pengabaian hak seksual istri.

 

  1. Poligami memelihara rantai kemiskinan

Hal ini bepotensi terjadi pada laki-laki miskin—berpendapatan rendah—yang menikahi banyak perempuan. Apabila laki-laki berperan sebagai pencari nafkah utama, maka bisa dipastikan akan hidup dalam kemiskinan. Efek lebih lanjut adalah anak-anaknya pun akan kesulitan mengakases pendidikan yang memadai. Ini menyebabkan rantai kemiskinan akan berlanjut sampai ke anak cucunya.

 

  1. Poligami berkonstribusi terhadap masa depan anak

Anak-anak yang lahir didalam poligami akan mengalami perkembangan psikologis yang kurang baik karena kurangnya perhatian ayah dan ibu, sering menyaksikan pertengkaran, serta lingkungan sosial yang memberikan cap negatif terhadap dirinya dan keluarganya. Anak-anak yang berasal dari keluarga poligami, terutama keluarga miskin, kesulitan mendapatkan pendidikan formal dan nonformal yang baik.

 

  1. Poligami bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan

Kemerdekaan menghendaki adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai warga Negara, termasuk dalam keluarga/ perkawinan. Sementara poligami melanggengkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Poligami juga bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan nasional, yakni masyarakat yang adil dan beradab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here