Hidup adalah pilihan, demikianlah prinsip yang dipegang teguh oleh Ira Sobeukum. Prinsip itu pulalah yang membawanya memilih berjuang melalui jalur parlementer walaupun tak sedikit tantangan yang dihadapinya.

Kegagalan maju dalam pencalegan di tahun 2004, tidak menyurutkan langkahnya. Justru, pengalaman tersebut menjadi modalnya untuk mengenal lebih jauh karakter dan memenangkan hati pemilihnya. Berbekal kebulatan tekad dan modalitas yang dimilikinya, Ira memang telah membuktikan bahwa dirinya LAYAK!

Berikut ini adalah lanjutan wawancara saya dengan Abi Yerusa Sobeukum, yang akrab disapa Ira:

Selama masa kampanye 6 bulan itu, apa kendala yang paling signifikan dirasakan oleh Kawan Ira?

Saya pikir kendala utama saya adalah biaya. Modal saya pas-pasan, bahkan nyaris tidak ada. Saya pernah kehabisan uang saat mau sosialisasi. Bingung juga mau pinjam uang dimana, karena sudah habis total. Kebutuhan di dapur cukup besar. Walaupun bukan untuk money politic, tapi cost politic cukup tinggi. Ditambah lagi medan yang berat. Satu-satunya solusi ya mencari pinjaman lagi dan meminimalisir uang yang ada agar bisa cukup untuk menjangkau titik yang paling jauh.

Pernahkah Kawan Ira pernah merasa putus asa dan ingin berhenti karena kendala yang dihadapi?

Saya tidak pernah merasa putus asa atau menyesal atas pilihan saya ini. Saya pikir inilah konsekuensi yang harus saya jalani dari keputusan saya. Mandegnya biaya, kondisi Amfoang yang jalannya saja sudah luar biasa, ditambah lagi kondisi alam yang tidak menentu─saat itu sudah masuk musim hujan─tentu saja tidak gampang. Namun, berbekal semangat walaupun harus melewati banjir dan taruhan nyawa, saya tetap menjalaninya dengan sukacita.

Kawan Ira pernah mencoba maju dalam pilpres 2014 namun gagal. Apa pengalaman yang dapat dipetik dari kegagalan kali lalu?

Tahun 2014 itu memang saya mencoba untuk maju karena dilamar oleh partai. Saya anggap itu sebagai perkenalan. Saya belajar untuk mengenal medan dan karakter pemilih. Karena pemilih kita saat ini masih sangat kultural, saya mulai menjangkau ke titik-titik keluarga terlebih dahulu. Saya pun belajar untuk melakukan pengawasan hasil pemilu, dimulai dari kawal surat suara. Yah saya melihat ada kemungkinan kecurangan yang terjadi di pemilu sehingga saya menjadi lebih jeli, teliti, dan ekstra dalam melakukan pengawasan suara.

Menurut Kawan Ira, apakah perempuan berpeluang terlibat dalam politik?

Tentu saja dengan adanya affirmative action untuk menaikkan keterwakilan perempuan dalam politik ini membuat perempuan punya peluang untuk terlibat. Namun, ada banyak kendala yang harus dihadapi, diantaranya parpol belum menjalankan salah satu fungsinya yaitu  kaderisasi, khususnya kaderisasi perempuan. Menjelang pemilu, banyak partai politik yang kewalahan mencari perempuan. Padahal dengan adanya affirmative action ini, kehadiran perempuan menjadi kunci partai ikut pemilu atau tidak. Kalau tidak ada keterwakilan perempuan, partai itu pasti dicoret. Ini harusnya jadi pemicu agar perempuan terus semangat dan berjuang. Kuota 30% menjadi tugas perempuan. Kehadiran perempuan di sana bukan sekadar untuk mengelap meja dan membawa tissue, tapi perempuan tersebut politisi, dia punya andil untuk perjuangan agenda perempuan ke depan.

Bagaimana tanggapan Kawan terkait kuota perempuan 30% saja?

Menurut saya, affirmative action itu hasil dari perjuangan. Mari kita buktikan bahwa kehadiran perempuan tidak semata-mata untuk memenuhi kuota 30%, tapi perempuan juga mampu. Caranya adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin sejak dini. Kehadiran perempuan bukan pelengkap, melainkan harus diperhitungkan.

Apakah juga kuota 70% itu menunjukkan bahwa laki-laki berkualitas?

Tidak juga. Banyak yang sekadar menjadikan politik tempat mencari nafkah. Saat saya maju pun saya sempat dicap hanya mencari pekerjaan dan nafkah. Mungkin laki-laki yang mau berjuang untuk rakyat presentase sangat kecil ya. Justru sekarang masih banyak wajah-wajah lama yang  tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Wajah baru dan semangat baru belum mendominasi parlemen.

Bagaimana dengan keterlibatan perempuan dalam hasil pemilihan di Kabupaten Kupang?

Dari 40 orang yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Kupang periode 2019-2024, 5 diantaranya adalah perempuan. Untuk dapil saya sendiri, dari 6 kursi yang diperebutkan, ada 2 orang perempuan yang lolos. Keterwakilan perempuan di dapil kami terpenuhi.

Bagaimana tanggapan Kawan tentang anak muda khususnya perempuan yang takut berpolitik?

Politik itu kan untuk kebaikan bersama; membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Jadi saya sedih kalau melihat anak muda saat ini takut berpolitik. Gerakan perempuan sejak dulu itu luar biasa. Harusnya perempuan hari ini membaca sejarah itu dengan baik dan jadi lebih progresif.

Apa harapan untuk perempuan yang ingin terlibat dalam politik?

Dunia politik saat ini masih sangat maskulin, tetapi jangan takut untuk terlibat dan berjuang. Seperti kata orang bijak, kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kitalah yang paham persoalan perempuan. Persoalan-persoalan tersebut harus menjadi agenda perjuangan kita, yang tentu saja tidak langsung terjawab namun perlahan akan diwujudkan.

Apa pembelajaran yang bisa dipetik dalam Pemilu 2019 ini dan harapan Kawan Ira ke depan?

Sistem pemilihan 2019 mulai membaik. Penginputan menggunakan sistem aplikasi mampu meminimalisasi kecurangan dalam pemilu 2019. Saya berharap ke depan semua pihak lebih bekerja sama mengawal dan mengawas pemilu agar pemilu berjalan dengan sejujur-jujurnya. Kalau perlu pengawalannya lebih ditingkatkan lagi.

Kita semua tahu bahwa budaya patriarkal membuat kita terninabobokan. Gayanya sangat lembut sehingga kita merasa nyaman. Dengan belajar, membaca informasi, berdiskusi, dan berjejaring, wawasan kita akan terbuka dan kita sadar bahwa kita tidak sedang baik-baik saja. Kita berada dalam lingkaran yang menggerakkan kita harus keluar dari lingkaran itu.

DATA CALEG

Nama Lengkap: Abi Yerusa Sobeukum
Tempat, tanggal lahir: Oh’aem, 23 April 1991
Alamat: RT 010 RW 005 Desa Oh’aem II Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang
Pekerjaan: Wiraswasta
Agama: Kristen Protestan
Pendidikan Terakhir: Strata I

Pengalaman Organisasi:

  • Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Amfoang Selatan (Permasel), 2011-2012
  • Sekretaris Komisariat Unwira Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Kupang, 2011-2012
  • Ketua Departemen Kajian dan Bacaan Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Kupang, 2012-2013
  • Bendahara Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Pemerintahan Fisip Unwira Kupang, 2012-2013
  • Wakil Bendahara 1 Senat Mahasiswa Fisip Unwira Kupang, 2012-2013
  • Ketua Senat Mahasiswa Fisip Unwira Kupang, 2013-2014
  • Wakil Ketua Departemen Hukum dan Advokasi Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK-LMND) Kupang, 2013-2014
  • Ketua Dewan Pimpinan Kota Aksi Perempuan Indonesia Kartini (DPK API KARTINI) Kupang, 2015-sekarang

INTAN NUKA


Category: Headline , Opini , Wawancara

Tag: ,