Kartini adalah orang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia yang menutup zaman tengah, zaman feodalisme Pribumi yang “sakitan” menurut istilah Bung Karno. Bersamaan dengan batas sejarah Pribumi ini, mulai berakhir pula penjajahan kuno Belanda atas Indonesia dan memasuki babak sejarah penjajahan baru; imprealis modern.

Dua macam arus sejarah yang mengalir pada waktu bersamaan dalam masa hidup Kartini inilah yang menerbitkan salah paham orang tentang posisi Kartini. Dua macam arus sejarah tersebut tidak mengaburkan posisi Kartini. Bagi Kartini sendiri sudah jelas; tujuannya adalah rakyat (pribumi).

Sebagai seseorang yang sebenarnya berdiri sendiri, tanpa dukungan organisasi massa yang waktu itu memang belum lahir, perjuangan dan masalah-masalah yang dihadapinya sebenarnya jauh lebih berat. Dari sinilah dapat dimengerti mengapa jalan, bentuk dan warna perjuangannya menjadi begitu rupa. Kekuatan dan kekuasaannya hanya di bidang moral, lebih dari itu sama sekali tidak ada. Ia tidak punya alat-alat untuk mewujudkan konsep-konsep pemikirannya. Bahkan boleh dikata segala pihak menentangnya: Bukankah percuma kalau ia mengatakan: “Sayang! Kekuasaan tiada padaku, baiklah aku berdiam diri saja tentang itu.”

Kartini bergaul dengan orang-orang Belanda. Hal ini yang seringkali membuat banyak orang Indonesia ragu-ragu, tak jarang menimbulkan dugaan yang bukan-bukan tentang posisi Kartini dalam perjuangan. Dalam hal ini patut pula diperingatkan, bahwa dugaan yang bukan-bukan itu tidak lain dari pada anakronisme historik. Sebuah sikap yang tidak menempatkan orang sesuai dengan tata latar, waktu serta pada zamannya.

Kartini hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling pertama. Melupakan fakta historik ini, adalah tak mau tahu tentang posisi Kartini dalam zamannya sendiri. Kartini adalah sang pemula dari sejarah modern Indonesia. Ditangannya kemajuan itu dirumuskan, diperincinya dan diperjuangkannya, untuk kemudian menjadi milik seluruh nasion Indonesia. Dikatakan Indonesia, karena sekalipun ia lebih sering bicara tentang Jawa, ia pun tak jarang mengemukakan keinginannya buat seluruh Hindia-Indonesia dewasa ini.

Penentang Feodalisme dan Kolonialisme

Kartini lahir dari keluarga ningrat. Namun Kartini enggan terbelenggung dalam tradisi bangsawan Jawa yang feodal. Sepanjang hidupnya berisi pertentangan terhadap struktur masyarakat feodal yang mengekang rakyatnya. Sampai-sampai Kartini menolak disebut gelar bangsawannya. “Panggil Aku Kartini Saja,” demikian ia menulis dalam suratnya untuk Estella Zeehandelaar 1899. 

Kartini memiliki sikap ingin bebas dan menjadi modern melalui pendidikan. Kepada Nyonya Ovink Soer, ia mengungkapkan keinginannya yang sangat besar untuk dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan cita-citanya agar perempuan mempunyai kesempatan bersekolah setara dengan kesempatan yang diberikan kepada kaum laki-laki, “Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih.”

Pada saat itu, masyarakat Jawa masih memegang teguh adat istiadat dan kebudayaan feodal. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk tampil dimuka umum dan memiliki keterbatasan dalam hal pendidikan. Masyarakat Jawa masih memegang nilai-nilai budaya yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak terlalu menguntungkan dan dibatasi. Perempuan dianggap lebih lemah jika dibandingkan dengan laki-laki sehingga tugas perempuan hanya sekedar mengurus urusan di dalam rumah. Kartini juga menyebut Feodalisme sebagai penyakit yang menyebabkan hilangnya kesetia-kawanan, merendahkan martabat manusia, dan menghalangi kemajuan masyarakat.

Kemarahan Kartini bukan hanya tertuju pada budaya feodal, melainkan Kartini juga seorang anti kolonialisme. Ia melihat struktur sosial masyarakat jajahan Hindia yang menempatkan kaum Bumiputera sebagai manusia rendah. Pengalaman yang ia alami sebagai perempuan Jawa yang hidup dalam alam kolonialisme menerbitkan kemarahan yang bertumpuk-tumpuk di dalam dirinya. Kemarahannya kepada orang Eropa di Hindia Belanda yang berpola laku tiada beda dengan penguasa pribumi yang kejam dan zalim.

Kemarahan itu ia simpan dalam ingatan, yaitu ketika peristiwa pemukulan keji yang dilakukan orang Eropa terpelajar terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena menghalangi jalannya si pembesar Eropa. Kartini menyadari bahwa kolonialisme adalah penyakit yang menguras kekayaan negerinya dan memiskinkan rakyatnya.

Dia pernah menulis,” Sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ladang kera yang mengerikan. Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan Hindia yang miskin. Orang mudah sekali lupa kalau negeri kera yang miskin ini telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal disini” (Vissian Ita Yulanto, 2004).

Minaria Christyn Natalia

*Disarikan dari buku: Panggil Aku Kartini Saja karya Pramudya Ananta Tour.


Category: Headline , Opini

Tag: , ,