Oleh: AJ Susmana*

Ribut-ribut politik Indonesia sekarang yang modern tampak ujung-ujungnya justru seperti keributan politik (antar) dinasti atau malahan usaha untuk membangun dinasti baru. Hal yang paling mencolok dalam politik dinasti itu adalah penempatan anggota keluarga dari sepasang suami isteri, anak, menantu, cucu dan hubungan kekerabatan lainnya dalam posisi-posisi politik strategis seperti lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif  serta posisi lainnya yang dapat menguntungkan baik secara ekonomi maupun politik itu sendiri tanpa memandang kualitas atau kemampuan politik anggota keluarga yang ditempatkan itu.

Tentu tidak menjadi masalah kalau anggota keluarga yang ditempatkan dalam posisi politik atau jabatan lainnya itu memang mempunyai rekam jejak yang baik dalam berpolitik. Dalam artian juga jelas asal-usulnya dalam keterlibatan politik seperti terlibat dalam organisasi massa atau kerja-kerja advokasi dan juga dalam jenjang kepartaian.

Jadi tidak serta merta karena dia adalah anggota keluarga yang berkuasa lantas tanpa rekam jejak bisa diangkat atau dilantik dalam posisi-posisi politik atau jabatan strategis lainnya. Tetapi jelas yang kita lihat sekarang, politik Indonesia sudah seperti pertarungan antar dinasti dan masing-masing mementingkan dinastinya sendiri-sendiri. 

Karena itu dalam rangka politik dinasti, anggota keluarga yang salah, misalnya, tertangkap karena korupsi tetap sebisa mungkin dibela mati-matian. Keluarga atau dinasti justru tidak membantu agar kasus korupsi jelas terungkap dan anggota keluarga yang korupsi itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Yang ada, keluarga atau bagian  dari dinasti itu akan berusaha menutup-nutupi tindak kejahatan atau kalau perlu membuang bukti-bukti yang memberatkan.

Bagaimana Indonesia yang modern itu justru bobrok kualitas politiknya dan malahan berlandaskan pada jiwa kekerabatan yang salah? Apakah memang begitu adanya sejarah politik Indonesia dari dahulu sampai sekarang dan akan selama-lamanya?  Tidak adakah contoh-contoh yang baik?

Tentu ada. Dialah Ratu Sima yang kita kenal bagaikan dongeng kanak-kanak, antara nyata sebagai tokoh historis atau sekadar khayalan untuk mengajarkan kebaikan karena tindakannya yang tegas tanpa pandang bulu dalam menjatuhkan hukuman terhadap pelaku kejahatan bahkan kalau pelaku kejahatan itu adalah anaknya sendiri. Tetapi jelas para sejarawan sepakat bahwa Ratu Sima adalah tokoh yang menyejarah dalam kehidupan dan mewarnai perjalanan Indonesia.

Ratu Sima, ratu perempuan yang pertama  kali tampil dalam panggung sejarah Indonesia kuno itu memerintah di Kerajaan Kalingga di Jawa sekitar tahun 674 Masehi, Dalam Kitab Sejarah Dinasti Tang (Tang memerintah pada 618-906 Masehi), Kalingga yang dikenal sebagai Holing ini disebutkan terletak di sebuah pulau di laut selatan, di sebelah timurnya terletak Dwa-pa-tan. Dikatakan juga bahwa kotanya dikelilingi dengan pagar kayu, rajanya berdiam di istana bertingkat dengan atap dari daun palma. Raja duduk di istana singgasana dari gading. Penduduknya sudah pandai menulis dan mengenal juga ilmu perbintangan. (Sartono Kartodirdjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia II, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976;73-74).

Ratu Sima dikenal sebagai ratu yang berani dan tidak takut  bahkan pada pemerintahan asing yang hendak menyerbunya. Semua itu karena Ratu Sima yakin bahwa rakyatnya mendukung dan menyokong pemerintahannya tanpa pamrih. Dan rakyat mau mendukung dan menyokong Ratu Sima karena Ratu Sima dalam memerintah sudah  teruji dan terbukti tidak mementingkan diri dan keluarganya. Karenanya di bawah Ratu Sima, rakyat Kalingga hidup  rukun, bersatu, aman, nyaman dan tentram tanpa kekurangan sandang, pangan dan papan. Tidak ada perampok ataupun  pencuri barang-barang rumahan di kala rumah kosong ditinggal liburan; tidak ada begal motor di tengah jalan; tidak ada jambret di pasar; bahkan tak ada orang yang mau atau berani mengambil harta atau barang yang bukan miliknya walau barang itu ada di jalanan umum.

Keadaan Negeri Kalingga yang adil dan makmur itu pun terdengar sampai ke Negeri Arab. Raja Arab yang tidak percaya bahwa ada negeri yang rakyatnya jujur-jujur dan diperintah seorang Ratu Perempuan itu mencoba memancing di air keruh. Ia perintahkan intelejennya untuk menaruh atau meletakkan sekantong uang dinar di tengah jalan. Raja Arab itu ingin tahu: apakah benar tak ada rakyat Kalingga yang mau mengambil harta yang bukan miliknya walau itu tercecer di jalanan. Raja Arab itu pun menerima laporan tiap tahun bahwa sekantong uang dinar itu masih berada di jalanan itu dan tak bergeser satu inci pun.

Tetapi pada tahun ketiga, Raja Arab pun mendengar bahwa sang Putra Mahkota dijatuhi hukuman mati oleh Sang Ratu, yang tak lain adalah ibunya sendiri walau banyak saksi menyatakan bahwa sang Putra Mahkota  tidak sengaja menyentuh dan membuat sekantong dinar itu bergeser. Atas desakan para pembesar negeri, Sang Ratu pun membatalkan hukuman mati tetapi pada kaki yang bersalah itu yang telah menyebabkan sekantong dinar itu bergeser  harus dipotong sebagai ganti dari potong leher. Sekali lagi para pembesar negeri memohon pada Ratu Sima untuk membebaskan sang putra mahkota dari hukuman potong kaki. Tetapi Ratu Sima tetap pada keputusannya. Kaki putra mahkota yang dianggap bersalah itu pun dipotong. Mendengar laporan itu, Raja Arabpun  takut dan tidak berani menyerang Ratu Sima dari Kalingga.

*Penulis aktif di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER).



Category: Headline , Opini

Tag: , ,