Oleh: AJ Susmana*

Sampai hari ini, kita masih disuguhkan mitos  Ratu Pantai Selatan, sering juga disebut Ratu Laut Selatan atau juga Nyai Roro Kidul sebagaimana lidah Jawa menyebutnya. Boleh dipercaya boleh juga tidak: Nyai Roro Kidul mempunyai istana dan berkuasa di Laut Selatan (yang dalam posisi hari ini bisa dikatakan sebagai Samudra Hindia) dan secara “tradisi” menikah dengan Raja-Raja Mataram Islam. 

Ada pendapat (dari Pramoedya Ananta Toer, barangkali) bahwa datangnya mitos Ratu Pantai Selatan ini akibat dari semakin tidak berkuasanya Mataram atas lautan sehingga untuk tetap meyakinkan rakyat bahwa Mataram tetap berjaya di lautan, diciptakanlah Nyai Roro Kidul. Kisah ini sampai pada kita sekitar tahun 1587 Masehi, yaitu ketika Mataram berdiri sebagai  kerajaan merdeka di bawah Panembahan Senopati. Sebelum Mataram berdiri, hampir tidak ada cerita Ratu Pantai Selatan ini seperti yang sampai pada kita hari ini. 

Tetapi, Presiden Sukarno, demi membangkitkan Indonesia jaya  dan keharusan Indonesia untuk menguasai laut agar menjadi bangsa yang besar tampaknya juga tidak bisa lepas dari lingkaran kisah ini. Katanya, sebagaimana yang dilaporkan Wenri Wanhar, “Proklamator kemerdekaan Indonesia itu mengisahkan, sejak zaman lampau, apalagi sejak zaman Mataram Islam, ada tradisi yang mengatakan bahwa raja hanyalah bisa menjadi raja yang besar dan kuat, pimpinan hanyalah bisa menjadi pimpinan yang kuat, jikalau beristerikan Ratu Pantai Selatan. Maka tak heran beredar cerita bahwa Bung Karno punya hubungan khusus dengan Sang Ratu. Beberapa pekan belakangan, saya menetap di Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.  Dari penduduk setempat, didulang kabar bahwa dahulu kala Bung Karno acapkali datang ke kampung teluk tersebut.”(https://www.jpnn.com/news/ketika-bung-karno-menceritakan-ratu-pantai-selatan

Mitos Ratu Pantai Selatan tersebut dalam satu sisi sebagaimana sampai pada Bung Karno dan generasi sekarang memang tampak jelas merindukan Indonesia yang jaya sebagai negara maritim (sebagaimana pernah dialami Sriwijaya dan Majapahit). Tetapi apakah pernah ada tokoh historis, yang menyejarah dan  berkuasa atas Laut Selatan lalu kian lama menjadi dongeng Nyai Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan ini? 

Kalau kita berpijak pada pengertian “selatan” hari ini atau pada geopolitik Mataram yang makin tersudut ke pedalaman  Jawa Tengah bagian selatan. Laut Selatan itu akan menunjuk pada Samudera Hindia. Tetapi kalau kita berpijak pada geopolitik yang lampau setidaknya di masa Ratu Sima sekitar tahun 674 Masehi, “selatan” itu bisa jadi adalah bagian dari geopolitik Kekaisaran Tiongkok, yang dikenal juga sebagai kerajaan tengah atau pusat; sementara “Barat” bagian dari geopolitik India (yang masyur dengan Dinasti Bharata-nya).

Begitulah dalam Kitab Sejarah Dinasti Tang (618-906 Masehi), Kalingga disebutkan terletak di sebuah pulau di laut selatan. (Sartono Kartodirdjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia II, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976;73-74). Apakah dengan demikian Ratu Sima yang disegani negara-negara asing, termasuk Kerajaan dari Arab itu adalah gambaran dari sosok  Ratu Laut Selatan itu?

Gambaran Penguasa  Laut Selatan yang disegani dan barangkali juga menimbulkan ketakutan pada Kekaisaran Tiongkok semakin nyata pada diri Tribhuwana Tunggadewi dari Majapahit yang berkuasa dari tahun 1328 sampai 1351 Masehi. Di bawah kekuasaan Tribhuwana, cita-cita Kertanagara sebagaimana yang dinyatakan dalam Sumpah Palapa Gajah Mada yaitu  menyatukan Nusantara relatif  sudah terpenuhi. Kemaharajaan Nusantara yang luas itulah yang diwariskan kepada anaknya Hayam Wuruk. 

Keberanian dan ketegasan Tribhuwana barangkali hanya isapan jempol. Sejarahpun tampak mengecilkan peran Raja Perempuan ini dan para penulis lebih suka menonjolkan Sang Lelaki Mahapatih Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara dan membesarkan Majapahit. Agus Aris Munandar menyodorkan Gajah Mada yang bernama lain juga Jirnnodhara sebagai pembangun caitya untuk Kertanagara dan prasasti yang memuat berita ini dinamakannya Prasasti Gajah Mada (Agus Aris Munandar, Gajah Mada, Biografi Politik, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010;63-67);  tetapi Slamet Muljana, menyebutnya sebagai Prasasti Singasari “…yang dikeluarkan oleh Tribhuwanatunggadewi…Perintah Tribhuwanatungadewi disampaikan kepada dua orang yakni kepada patih seluruh negara Mpu Mada dan kepada patih negara bawahan  Singhasari: Mpu Jirnodhara…” (Slamet Muljana, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, Inti Idayu Press, Jakarta, 1983;185-186).

Walau keberanian dan sepak terjang Tribhuwana dibayang-bayangi Gajah Mada,  bayangan keberanian dan ketegasan Tribhuwana ternyata tidak bisa dilupakan. Untuk mengenang keabadian Tribhuwana, arca Parwati, sakti Siva Mahadewa, yang bila marah menjadi Dewi Kali yaitu dewi kematian tanpa ampun bagi siapapun, dilekatkan kepadanya. Dialah juga yang menindas dan menumpas pemberontakan Sadeng tahun 1331 sebagai langkah awal dalam kerja besar menyatukan Nusantara di saat Gajah Mada masih ragu-ragu dan takut-takut sebagaimana diceritakan: 
“Salah seorang pemimpin Sadeng bernama Tuhan Wuruyu, pangeran dari Pamelekahan yang mempunyai cemeti sakti. Orang orang Majapahit gentar menghadapinya. Akhirnya Ratu Tribhuwana sendiri datang ke Sadeng turut menindas pemberontakan tersebut. Maka padamnya pemberontakan Sadeng dicatat atas kuasa Ratu Majapahit, bukan atas  jasa Gajah Mada, ra Kembar ataupun Arya Tadah. (Lihat juga: Agus Aris Munandar, Gajah Mada, Biografi Politik, Komunitas Bambu, Jakarta, 2010;33).

Dengan keberanian dan ketegasan, Tribhuwana mengantarkan Majapahit menuju puncak kejayaan dan kemegahan, lantas mengundurkan diri demi kemajuan putra terkasihnya Hayam Wuruk, pantaslah kiranya jika Tribhuwana adalah Ratu Laut Selatan yang sesungguhnya. Memang, menceritakan keberadaan Ratu Perempuan yang berjaya terus-menerus ke generasi penerus yang barangkali kondisi masyarakatnya tidak rela perempuan memimpin sebagai raja adalah tindakan yang sangat berat. Makin lama, Ratu Laut Selatan yang historis itu pun lenyap. (Lihat juga: C.C. Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Bhratara, Jakarta, 1974;135).

Walaupun Sultan Agung menyatakan diri sebagai pewaris sah dari raja-raja Majapahit; pun dalam Babad Tanah Jawi  tercantum raja besar Majapahit Hayam Wuruk dan  kita mengerti bahwa Tribhuwana adalah raja perempuan sebelum Hayam Wuruk, ternyata para pujangga Mataram tak memasukkannya sebagai bagian dari raja-raja pendahulu. Tetapi jelas lebih suka menyodorkan dongeng Nyai Roro Kidul.

Dongengan patriarkhis ini pun terus berlanjut, bahkan Bung Karno semakin memperkuat bahwa perempuan raja itu tidak ada, tetapi Lelaki “beristerikan Ratu Pantai Selatan”lah yang akan jaya; sebagaimana raja-raja Mataram?

*Penulis aktif di Jaker (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat).


Category: Headline , Opini

Tag: , , ,