Oleh: Tejo Priyono (Jaker)*

Menyingkap rimbunnya belantara patriarki adalah sebuah tugas maha berat bila hanya diembankan ke ormas perempuan kita. Karenanya membangun kesadaran kesetaraan gender, kerja-kerja kampanye untuk tidak merendahkan-melecehkan kaum perempuan, tidak melakukan KDRT, tidak melakukankekerasan fisik-psikis tentu juga menjadi perhatianisu bagi organisasi-organisasi sektoral yang lain; buruh, tani, mahasiswa dan kaum miskin kota.

Alam patriarki melahirkan masyarakat yang sakit dan keji, seperti kasus incest (inses) di Kabupaten Pringsewu – Lampung (https://news.detik.com/berita/d-4442073/fakta-fakta-memilukan-kasus-incest-di-lampung) yang sangat memilukan dimana anak perempuan berusia 18 tahun diperkosa secara rutin dan bergilir oleh bapak kandung (45), kakak kandung (24), dan adik kandungnya (15) sendiri. Korban adalah penyandang disabilitas dan keterbelakangan mental yang harusnya dijaga dan dilindungi oleh keluarga setelah ibunya meninggal.

Kasus lain seorang guru agama (57 tahun) di Kutai Kartanegara – Kalimantan Timur mencabuli 9 siswi SD. Perbuatan cabul tersebut terjadi di dalam kelas saat jam pelajaran. Para siswi dia panggil ke kursinya lalu dipangku.(https://news.detik.com/berita/d-4442741/cabuli-9-siswi-di-kelas-guru-agama-bs-ancam-tak-beri-nilai)

Dan banyak kasus yang tak terekspos media hingga luput kita ketahui. Jangankan kita, negara semaju amerika saja dalam ajang musik grammy award dalam penjurian para penyanyi perempuan selalu dituntut lebih dari sekedar musik, penampilan (seksi) juga harus diperhatikan hingga menjadikan ajang kompetisi musik dunia tersebut menjadi sangat berat bagi penyanyi perempuan.

Seni Sebagai Alat

Perjuangan merebut kesetaraan gender jelas menuntut pertarungan ideologi, pertarungan pengaruh, maka salah satu alatnya adalah seni. Seni bisa sastra, seni pertunjukan (musik, teater, drama), seni rupa (lukisan, kartun, meme dst), sinematografi (film, fotografi dst).

Contoh pelaku yang menjadikan seni sebagai media/alat perjuangan:

  • Lekra cabang Surabaya menggunakan Ludruk untuk membangun kesadaran nasionalisme, dan menggunakan bahasa daerah dalam pertunjukannya
  • WS Rendra, Wiji Thukul dengan puisi-puisinya
  • John Tobing, Lontar Band dengan lagu-lagunya
  • Jaker, Taring Padi, Yayak Yatmaka dengan lukisan, poster tehnik cukil kayu 

Maka dari itu API Kartini harus bisa melahirkan prajurit-prajurit seninya sendiri, mengorganisir seniwati-seniwati yang akan menyuarakan isu-isu kesetaraan gender.

Strateginya

  1. Memaksimalkan media sosial : channel youtube, IG dst. Artis-artis API Kartini harus eksis
  2. Membuat lagu-lagu, film bertema pendidikan seks, Kespro, isu perlindungan anak-anak kita dari ancaman predator cabul, pelecehan seks, ajakan untuk berani melawan/beladiri, berani menolak dan seterusnya
  3. Ada sebuah “Tim Kerja Seni” dibawah Divisi Organisasi dalam struktur API Kartini yang ada saat ini.

Divisi ini tidak harus berdiri sendiri tetapi ngeSub dibawah Sekjend atau Divisi Organisasi.

Divisi inilah yang akan membuat, menyusun program, merencanakan kerja-kerja kesenian terkait isu-isu perempuan.

Tawaran kerja-kerja terkait strategi tersebut antara lain seperti:

  1. Membentuk Women Cyber Army (yang akan memproduksi mems, quote-quote harian, video-video pendek dan sebagainya)
  2. Mulai perapihan alat-alat kampanye yang ada mulai dari website, IG, FB dan twitter. Petugas produksi – distribusi konten sudah harus ada saat pembentukan Women Cyber Army tadi.
  3. Menerbitkan Buletin 4/8/16 halaman yang materinya bisa tulisan baru atau mengambil dari website API Kartini, dari Berdikari online atau dari tulisan dari website organ-organ yang senafas dalam isu (Komnas Perempuan dsb)
  4. Penerbitan buku puisi, cerpen tema perempuan
  5. Latihan musik bareng di taman atau ruang-ruang terbuka yang ada (inventarisasi alat-alat musik yang kita punya : gitar, suling, harmonika, pianika dst)
  6. Produksi album musik yang nanti bisa dijual dan pasang di channel youtube
  7. cover lagu-lagu yang sedang ngetop +cover juga 1-2 lagu-lagu perjuangan
  8. Diskusi/nonton bareng film-film tema perempuan
  9. Membuat grup musik (output dari latihan musik bersama tadi, bisa menjadi media membangun chemistri dan kebersamaan). (*)

*Penulis adalah Ketua JAKER (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)


Category: Headline , Opini

Tag: ,