Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dikenal sebagai organisasi perempuan yang memiliki jumlah anggota terbanyak di Indonesia. Buku Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, karangan Saskia Eleonora Wieringa, menyebutkan memasuki Kongres III pada tahun 1957 jumlah anggota Gerwani mencapai 663.740 orang. Di puncak kejayaannya gerwani memiliki jumlah anggota mencapai 1,5 juta.

Salah satu tujuan utama Gerwani adalah menciptakan gerakan massa yang sebesar-besarnya. Gerwani menggaris bawahi, di samping memperjuangkan hak-haknya kaum perempuan juga harus turut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Untuk itu, Gerwani melakukan penggalangan massa dari bawah untuk mempersatukan kaum perempuan seluas-luasnya.

Lantas, apa yang dilakukan Gerwani sehingga berhasil tumbuh menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia? Berikut beberapa hal kerja-kerja aktif yang dilakukan Gerwani dalam lapangan perjuangan:

Pertama, aktif melakukan pendidikan terhadap kader. Gerwani menempuh dua acara dalam meningkatkan jumlah kader yang setiap ada garis Gerwani: pendidikan kader dan meningkatkan disiplin internal organisasi. Pendidikan kader dibagi menjadi dua bagian. Pendidikan pertama berisi empat mata pelajaran pokok: sejarah gerakan nasional, sejarah gerakan perempuan Indonesia, sejarah gerakan perempuan internasional, dan soal-soal internasional.

Pendidikan yang kedua adalah pelajaran tambahan, seperti: hak-hak perempuan dan anak, hukum dan kesehatan, koperasi, kebudayaan, dan lain-lain.

Selain itu, kader di daerah diwajibkan mempelajari kondisi daerah dan kebudayaan penduduk di wilayahnya. Hal inidiperlukan untuk menyusun program kerja, yang di dalamnya dijelaskan tujuan dan sifat organisasi.

Untuk merekrut calon anggota, Gerwani membentuk kolompok-kelompok diskusi kecil baik di desa maupun di kota. Melalui kelompok ini Gerwani mendorong kaum perempuan untuk lebih aktif dan disadarkan tentang hak-haknya.

Kedua, aktif melakukan kursus-kursus keterampilan, seperti memasak, menjahit, merenda, menyulam kepada perempuan. Mereka juga aktif dalam pemberantasan buta huruf dan gerakan pendidikan hingga ke desa-desa.

Ketiga, menerbitkan majalah API Kartini. Sebagai alat propaganda, Gerwani menerbitkan majalah bulanan API Kartini. Di dalamnya, majalah API Kartini menerbitkan soal-soal politik nasional dan juga peranan-peranan perempuan di dalam masyarakat atau kehidupan sosial. Selain itu, majalah ini menyediakan tips-tips untuk meningkatkan kerja produktif kaum perempuan seperti, karangan tentang bagaimana meningkatkan produksi pangan, dan juga berisi cerita pendek.

Keempat, aktif memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan anak. Salah satu hak kaum perempuan yang terus diperjuangkan oleh gerwani adalah perkosaan dan reform perkawinan. Tuntutan Gerwani adalah menciptakan undang-undang perkawinan demokratis. Dalam urusan perkawinan para anggota Gerwani turun tangan sebagai mediator atau advocator untuk menghadapi kasus tentang diabaikannya hak-hak perempuan-perempuan dalam perkawinan.

Dalam bidang ekonomi, Gerwani aktif menentang kenaikan harga-harga pangan dan sandang. Gerwani sebagai organisasi perempuan merasa bertanggung-jawab dalam mengroganisasi menentang kenaikan harga. Gerwani menganggap perempuan menjadi korban utama apabila terjadi kenaikan harga-harga. Maka sejumlah demonstrasi dan rapat umum dilancarkan untuk menentang kenaikan harga-harga tersebut.

Gerwani pun turut memperjuangkan hak-hak anak, seperti hak atas kemudahan pendidikan dan kesehatan, hari depan tanpa kerja anak, kawin paksa dan pelacuran. Selain itu, gerwani juga mendirikan tempat penitipan anak.

Kelima, aktif membangun kerjasama dengan organisasi perempuan lain. Untuk memperluas kebijakan dan isu-isu yang diangkat oleh Gerwani dan dapat diterima gerakan perempuan lain gerwani membuat wadah untuk mempersatukan organisasi, seperti membuat Panitia Peringatan 8 Maret, membuat Musyawarah Wanita, rapat-rapat umum dan lainnya. Gerwani menekankan pentingnya wadah-wadah tersebut untuk menyatukan platform bersama perempuan .

Pada tahun 1962, Gerwani berhasil melaksanakan Musyawarah bersama Kongres Wanita Indonesia (KWI) yang dihadiri 300-an orang. Musyawarah tersebut memusatkan perhatiannya pada naiknya harga-harga dan soal-soal ekonomi lainnya.

Selain itu, Gerwani turut serta, bersama dengan organisasi perempuan lain, di dalam Komisi Perkawinan, memperjuangkan diterbitkannya undang-undang perkawinan yang demokratis.

Keenam, menjadi sukarelawan Irian Barat. Tahun 1962 gerwani aktif dalam kampanye nasional pembebasan Irian Barat. Langkah itu dimaksudkan untuk memperluas peranan sosial dan politik perempuan, dengan memperlihatkan perempuan tidak sekedar sebagai istri dan ibu rumah tangga tetapi juga sebagai pejuang. Tidak hanya itu, semua Pimpinan gerwani selama bertahun-tahun ikut serta aktif dalam perang kemerdekaan nasional, mengikuti kemiliteran untuk menjadi tokoh nasionalis yang militan.

Selama periode kemerdekaan, Gerwani aktif mengorganisir aksi-aksi anti-imperialisme. Bentuk aksinya bermacam-macam. Misalnya, aksi mendukung nasionalisasi perusahaan minyak Inggris Caltex, bersama SOBSI mengorganisasi aksi pemboikotan, dan lain-lain.

Ketujuh, membangun integrasi dengan tani dan buruh. Di desa gerwani giat bekerjasama dengan BarisanTani Indonesia (BTI) untuk membela dan memperjuangkan hak-hak kaum tani, seperti hak atas tanah, pembagian hasil panen yang adil, dan lain lain. Gerwani juga menggelar kursus dan pelatihan bagi perempuan tani di desa-desa.

Selain itu, gerwani juga mengorganisir buruh perempuan yang dirugikan sistim kerja. Bersama SOBSI gerwani aktif melakukan demonstrasi menuntut kesetaraan upah, cuti menstruasi dan hamil, serta hak perempuan mendapat promosi dan perlakuan yang sama di tempat kerja.

Rini Hartono, AktivisPerempuan Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini

Sumber:

EleonoraWieringa, Saskia.1999.Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia. Jakarta: Kalyanamitra dan Garba Budaya.


Category: Featured , Opini

Tag: ,