Selang 2 bulan setelah Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda, kaum perempuan turut menunjukkan perannya dengan menyatukan gagasan pada Kongres Perempuan I di Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 22-25 Desember 1928. Kongres ini merupakan representasi dari keberanian dan kemampuan kaum perempuan untuk turut ambil bagian dalam perjuangan kebangsaan Indonesia

Kongres perempuan melahirkan gugatan progresif pada pemerintah kolonial Belanda yang rintisannya dapat kita rasakan hingga kini. Tanggal 22 desember kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu dan diperingati oleh Bangsa Indonesia setiap tahunnya untuk menghormati Ibu. Walaupun bagi sebagian kalangan peringatan tersebut masih menimbulkan polemik namun sesungguhnya Hari Ibu dapat digunakan sebagai upaya untuk menumbuhkan inspirasi bagi kaum perempuan di masa kini.

Inspirasi tersebut dapat berupa partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa ke depannya. Partisipasi aktif kaum perempuan terlebih lagi dibutuhkan untuk mewujudkan kemerdekaan perempuan di zaman milenia. Peran tersebut juga dapat dimulai dari struktur masyarakat terkecil yaitu keluarga.

Peran perempuan dalam perekonomian keluarga harus dipandang sebagai pondasi kekuatan bangsa dalam menghadapi arus globalisasi, terutama disektor pertanian. Sektor pertanian berhubungan erat dengan kedaulatan pangan. Persoalan pangan adalah persoalan hidup dan mati seseorang sebagaimana pernah dinyatakan oleh Bung Karno dalam pidatonya pada saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, sekarang lebih kenal dengan nama Institut Pertanian Bogor atau IPB.

Bicara mengenai Bogor, sebuah daerah yang menjadi bagian wilayah Provinsi Jawa Barat, dan terbagi menjadi dua yakni kota dan kabupaten. Letaknya paling dekat dengan pusat pemerintahan nasional, Ibukota Jakarta. Jika meletakkan pembangunan ekonomi sebagai benteng pertama pembangunan bangsa, maka boleh dibilang Kabupaten Bogor masih banyak tertinggal. Tercatat sejumlah desa yang minim sarana pendidikan dan kesehatan, salah satunya adalah Desa Antajaya Kecamatan Tanjungsari. Sebuah desa perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Cianjur.

Pertanian masih menjadi sumber mata pencarian utama masyarakat Desa Antajaya. Pada umumnya pendapatan ekonomi masyarakat Jawa Barat di dapat dari menjadi petani penggarap dengan memanfaatkan petakan tanah untuk ditanami padi, buah dan sayur mayur. Namun patut dicatat bahwa petakan tanah yang menjadi sumber penghidupan tersebut belum dimiliki secara utuh. Terutama lahan di seputaran wilayah kerja Perhutani.

Kebanyakan kaum perempuan dari Desa Antajaya pergi merantau keluar desa bahkan keluar negeri untuk mencari kerja. Pada umumnya mereka bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), pramuniaga toko atau pelayan restoran di Ibukota Jakarta. Hal ini dilakukan untuk membantu mengurangi beban hidup keluarga, karena hasil pertanian belum cukup dapat diandalkan. Penyebabnya karena hasil penjualan panen kadang tidak menentu, tergantung mekanisme pasar sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari – hari.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Desa Antajaya juga menjadi persoalan pokok yang harus segera diselesaiakan oleh pemerintah setempat. Pembangunan sarana pendidikan menjadi kebutuhan mendesak bagi warga masyarakat. Diharapkan dengan tersedianya fsilitas pendidikan maka akan semakin banyak warga yang dapat menyekolahkam anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, diharapkan masyarakat dapat menempati posisi pekerjaan yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan taraf hidup keluarga. Pentingnya pembangunan fasilitas pendidikan juga untuk menghapus buta aksara warga. Selain itu terdapat kebutuhan untuk memiliki keahlian dan keterampilan khusus untuk menunjang pengembangan dan kemajuan desa. Dengan bekal keahlian tersebut warga dapat memiliki penghasilan tanpa harus mencari kerja keluar desa. Warga dapat mengembangkan usaha konveksi, produksi makanan olahan, kerajinan tangan maupun usaha kecil menengah lainnya.

Dalam hal ini, kaum perempuan juga dapat mengembangkan pengetahuan dan memiliki penghasilan sehingga dapat membagi peran domestiknya dengan kaum laki-laki. Tentu saja dibutuhkan dukungan dari pemerintah terutama perangkat desa berupa tindakan yang efektif dan maksimal misalnya dalam pengelolaan dana desa dan pemanfaatan lahan perhutani.
Dengan demikian diharapkan Desa Antajaya dapat mencapai kemajuan dan mampu berdiri diatas kaki sendiri. Kaum perempuan pun dapat memiliki kedaulatan untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Wendy Hartono
Ketua KPW – STN Jawa Barat


Category: Headline , Opini , Uncategorized

Tag: ,