Feminisme kan ide Barat, apa cocok untuk Indonesia?

Feminisme sebagai kajian akademis memang tidak dimulai di Indonesia. Namun, bukan berarti gagasan feminis tidak ada dan nyata di Indonesia. Pemimpin-pemimpin perempuan yang cakap sudah ada, membuktikan kalau:

Pertama, Indonesia menerima kepemimpinan oleh siapapun,

Kedua, Pemimpin yang bagus tidak selalu lelaki.

Siti Aisyah We Tenriole adalah ratu kerajaan Bugis yang memerintah dari 1855-1910. Di bawah pemerintahannya, mahakarya epos La Galigo diterjemahkan dari bahasa Bugis kuno ke bahasa Bugis umum. Dia juga mendirikan sekolah modern yang terbuka untuk semua rakyat, bukan hanya lelaki borjuis seperti sekolah Belanda.

Rohana Koeddoes mendirikan surat kabar Sunting Melayu 1912. Surat kabar ini adalah surat kabar pertama di Indonesia yang dipimpin, disunting dan ditulis perempuan. Roehana juga memelopori pendidikan perempuan di Sumatera Barat, dengan mendirikan sekolah berbasis industri rumah tangga dan koperasi simpan pinjam di Minangkabau. Roehana kemudian mendirikan sekolah lain dan mengajar di Bukittinggi.

R.A. Kartini mempunyai pernyataan feminis dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901:

“Kami di sini (sic) memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita (…) agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

R.A. Kartini juga menunujukkan kita contoh feminisme interseksional (intersectional feminism) dengan ide kesetaraan perempuan yang Jawa, bukan Eropa dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, 10 Juni 1902:

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan.”

R.A. Kartini menyuarakan keinginannya mewakili Islam yang setara dan damai kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902:

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Masih banyak tokoh-tokoh perempuan Indonesia lain yang sama hebatnya!

Aku religius/tradisional, apa aku bisa jadi feminis?

Baca lagi bagian R.A. Kartini. Jawa, Muslim, percaya kesetaraan. Tak ada masalah!

Feminisme Islam di Indonesia bahkan diformulasikan pada tahun 1990-an, dengan penekanan bahwa modernitas sesuai dengan Islam dan bahwa pemahaman manusia terhadap teks-teks suci Islam merupakan sesuatu yang lentur.

Teks dapat diinterpretasikan untuk mendorong pluralisme, HAM, demokrasi dan kesetaraan gender. Organisasi feminis Islam di Indonesia termasuk Rahima (rahima.or.id). Siapapun yang percaya akan kesetaraan gender adalah feminis.

Apa kalian feminazi?

Feminazi adalah label yang diberikan oleh mereka yang tidak mau repot mendengarkan sehingga lebih memilih melabeli feminis sebagai “perempuan selalu benar”, “perempuan banyak maunya” (itu stereotipe seksis, lho).

Kita butuh banyak dialog untuk memahami pentingnya feminisme dalam memperbaiki ketidakadilan gender!

Aku lelaki, apakah feminisme hanya untuk perempuan? 

Feminisme terbuka untuk siapa saja, mengingat seksisme dan diskriminasi gender merugikan lelaki, perempuan dan orang non-biner. Kamu lelaki dan feminis? Keren! Silakan lihat kampanye dan program Aliansi Laki-Laki Baru (lakilakibaru.or.id).

 

*Sumber Bahan: diadopsi dan telah disunting kembali dari Feminisme Indonesia 101, Edisi Ringkas WMJ 2018 yang diterbitkan oleh Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG).

 

 

 


Category: Headline , Opini

Tag: , ,