Intersastra bersama Koalisi Seni Indonesia mengadakan ajang seni bertema House Of The Unsilenced (Rumah kami yang tidak bungkam) di Galeri Cemara 6, Menteng – Jakarta Pusat.

Ajang seni in menampilkan berbagai seniman dan penulis perempuan  seperti Dewi Candraningrum (Dosen sekaligus pelukis), Molly Crabapple (award winning artist and writer), Ratu Saraswati (art performer), Dyantini Adeline (pembuat film), Salima Hakim (dosen dan seniman), Yacko (rapper), Eliza Fitri Handayani (novelis), Ika Vantiani (kurator seni), Ningrum Syaukat (penari), Margaret Agusta (jurnalis dan seniman visual) dan Bisik-bisik Kembang Goyang (kolektif seniman perempuan).

Instalasi mixed media bertajuk: “Hurt, Rise, Forgive” 2018 karya Salima Hakim.

Masing-masing seniman dan penulis diatas bekerja sama dengam para penyintas kekerasan seksual untuk menghasilkan karya-karya baru seputar tema apa artinya angkat bicara dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita. Para penyintas dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan merasa aman dan nyaman berpartisipasi. Para penyintas berasal dari Jabodetabek, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Makassar. Usia mereka berkisar dari 19 hingga 53 tahun.

Stigma dan Citra Diri Negatif

Kampanye #MeToo yang ramai di dunia internasional mengungkapkan betapa banyak di antara para penyintas, yang mayoritas perempuan , di Indonesia masih sangat kesulitan untuk bercerita. Masyarakat sering memberi stigma dan sanksi yang sangat berat kepada korban kekerasan seksual, dan justru memaklumi tindakan pelaku. Tujuan sosial ajang ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ihwal dan dampak kekerasan seksual, yang disampaikan melalui ekspresi dan kreasi para penyintas.

Sudut-sudut pameran di Cemara 6 Galeri-Museum

“Kami membayangkan sebuah ruang yang aman dan dukungan yang kuat bagi mereka yang ingin angkat bicara, tempat di mana kawan-kawan penyintas dapat mengeksplorasi macam-macam kemungkinan untuk bercerita dan mengekspresikan diri,” tutur Eliza Vitri Handayani, penggagas dan pengarah acara House Of The Unsilenced.

Itu sebabnya, para seniman dan penulis di House of the Unsilenced menawarkan beragam medium kepada para panyintas: menulis, membuat kolase, merajut, melukis, menggambar, bernyanyi, dan medium lainnya sesuai minat dan bakat masing-masing. Para penyintas dapat berpartisipasi dengan cara mengikuti lokakarya atau berkarya bersama para seniman.

Seni rajut hasil kolaborasi Farul Piliang dengan para penyintas

Acara dibuka secara langsung oleh Toeti Heraty, seorang penulis dan sekaligus pemilik Galeri Cemara 6 sendiri. Ajang seni kolaborasi ini akan dipamerkan di Galeri Cemara 6 dari tanggal 15 Agustus sampai 2 September 2018, di dukung oleh Kedutaan Besar Norwegia dan Koalisi Seni Indonesia. Mitra acara lainnya adalah LBH Apik, Yayasan Pulih, Lentera Sintas Indonesia, Hollaback Jakarta, dan Arus Pelangi.

Beberapa acara akan digelar dalam pekan pameran ini, antara lain: Diskusi dan Peluncuran Film Chinese Whispers, Rilis single baru Yacko “FYBV”, performance art, Self-care body movements, open mic dan teater.

 

Sukir Anggraeni


Category: Berita , Headline

Tag: , ,