Kekerasan terhadap perempuan di India mendapat perhatian besar di media massa beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di India, yakni sebesar 18 persen. Sementara jumlah kasus perkosaan naik hingga 32 persen di tahun 2014.

Para pejabat Negara menyebutkan, ada sekitar 15.000 orang perempuan yang melapor sebagai korban dari tindak kekerasan di India, dibandingkan tahun lalu (2013) yang berjumlah 12.000 orang. Dimana sekitar 2000-an orang  adalah korban pemerkosaan.

Untuk diketahui, dari jumlah angka statistik diatas, hanya sebagian dari korban pemerkosaan yang melapor. Hal ini dikarenakan sebagian besar pelaku pemerkosaan adalah orang terdekat dari korban, baik teman ataupun keluarga korban.

Menghadapi persoalan ini, pemerintah mencoba memberikan pelatihan ilmu bela diri kepada perempuan. Namun hal itu tidak memberikan hasil yang diinginkan. Komisaris polisi Kota menginginkan adanya perubahan mentalitas untuk memecahkan permasalahan ini.

Selain jumlah pelecehan seksual yang meningkat di India, angka kematian perempuan yang terkait dengan “dowry” juga meningkat. Setiap tahunnya ada banyak perempuan yang bunuh diri atau dibunuh karena tidak mampu membayar mahar/ mas kawin sebagai persyaratan utama perkawinan di India.

Angka resmi dari Biro Catatan Kejahatan India mengungkapkan, sebanyak 8.233 perempuan muda meninggal di India di tahun 2012, diantaranya, adalah pengantin yang baru menikah, yang mendapat kekerasan dari suaminya. Laporan ini terus meningkat, bahkan diatas jumlah laporan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan pelecehan seksual.

Dowry, Mahar Kematian

Kata dowry sebenarnya merujuk kepada mas kawin yang diberikan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan atau sebaliknya sebagai persyaratan utama untuk melangsungkan perkawinan. Mas kawin ini mempunyai banyak variasi pemberiannya, meliputi: uang, mas, berlian, ataupun barang-barang rumah tangga. Sistem dowry muncul di beberapa tempat seperti Eropa, Asia Selatan, Afrika dan beberapa belahan bumi lainnya.

Di India sendiri,  dowry atau mas kawin diberikan oleh keluarga perempuan kepada keluarga laki-laki. Mas kawin ini dianggap sebagai pemberian seorang ayah terhadap anak perempuannya sebagai bentuk perlindungan terhadap anaknya dari kemungkinan kekerasan ataupun kejahatan yang dilakukan oleh calon suami ataupun mertua.

Namun, dalam perkembangannya, karena pengaruh keadaan sosial dan ekonomi, dowry telah menjadi momok yang menakutkan terhadap perempuan di India. Di tahun 1961, praktek dowry menjadi illegal karena telah memakan korban (Perempuan), namun sampai sekarang system ini masih tertanam dalam budaya India. Dibawah perkembangan patriarki dan sistem ekonomi kapitalis, sistem dowry semakin banyak menjatuhkan korban, terutama perempuan.

Sejumlah  data menyebutkan, setiap jam ada perempuan India yang meninggal karena sistem ini, karena ketidaksanggupan perempuan untuk membayar mahar dalam perkawinan. Kekerasan dalam rumah tangga pun kerap kali terjadi karena pihak pria dan keluarganya merasa tidak puas terhadap pembayaran mahar yang tidak memadai. Tidak hanya itu, di tahun 2006, UNICEF melaporkan bahwa 10 juta anak perempuan tewas baik sebelum dilahirkan ataupun setelah dilahirkan. Kelahiran anak perempuan sering dianggap beban, sedangkan kelahiran bayi anak laki-laki dianggap membawa kemakmuran.

Perkembangan struktur ekonomi di India yang telah dipengaruhi oleh sistem kapitalis turut memperkeruh dan memperparah dampak sistim dowry terhadap perempuan. Lahirnya revolusi hijau di India menyebabkan perempuan tersingkir dari tanah pertanian dan mendapat upah lebih rendah dari laki-laki. Keadaan ini membuat perempuan semakin terhimpit oleh beban ekonomi. Sementara, disisi lain, karena tekanan adat dan budaya, perempuan juga harus menanggung kelangsungan hidup mereka.

Sistem kapitalis di India menyebabkan banyak laki-laki memegang peranan penting dalam mengendalikan peran ekonomi dan produksi.  Boomingnya ekonomi kapitalis menyebabkan munculnya kelas-kelas dalam masyarakat  India dan menciptakan masyarakat yang konsumeristik dan materialistik. Munculnya strata sosial yang  berdasarkan jumlah kekayaan membuat mahar perkawinan menjadi dikomersilkan dan menjadi ajang bisnis ketika pihak keluarga perempuan akan mengadakan perkawinan dengan calon pengantinnya.

Permintaan mahar yang tinggi membuat keluarga pengantin perempuan acap kali merasa kesulitan untuk membayar mahar dan menanggung malu apabila anak perempuannya tidak menikah. Hal ini membuat sebagian besar penduduk India menolak mempunyai anak perempuan, bahkan membunuh atau menggugurkan kandungannya apabila diketahui anak yang dikandung adalah perempuan.

Kehadiran perempuan dianggap beban dalam masyarakat. Sudah begitu, perempuan kurang mandiri dalam ekonomi. Hal ini  membuat perempuan semakin rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Perempuan dianggap masih bergantung kepada suami dan keluarganya, sehingga letak kekuasaan atau superioritas dalam rumah tangga terletak kepada suami. Sementara istri tetap pada posisi yang tersubordinasi.

Rini, Departemen Hubungan Internasional Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API KARTINI) 


Category: Berita

Tag: , ,