Sedari awal, sosialisme sudah berpihak pada pembebasan kaum perempuan. Hal inilah yang membuat sosialisme sejalan dengan perjuangan kaum perempuan yang lazim disebut dengan istilah feminisme. Walaupun pijakan feminisme dan sosialisme berbeda.

Seperti kita ketahui bahwa feminisme, terutama feminisme liberal, melihat akar persoalan penindasan terhadap kaum perempuan adalah karena kodrat laki-laki. Sehingga dalam pengertian kaum feminisme liberal kaum laki-laki dan perempuan tidak akan bisa berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, bersama-sama bergotong royong dalam perjuangan. Karena bagi feminisme liberal, laki-laki adalah musuh kaum perempuan.

Sementara bagi kaum Feminis Sosialis, pendekatan dan visi terhadap pembebasan perempuan berpijak pada garis klas. Dalam pandangan Sosialis, penindasan laki-laki terhadap kaum perempuan muncul dari kepemilikan pribadi dan masyarakat berklas. Studi-studi mengenai sejarah peradaban manusia semenjak zaman batu memperlihatkan bahwa dalam masyarakat yang tidak mengenal kepemilikan pribadi dan perbedaan klas kaum perempuan dan laki-laki sama-sama terlibat dalam proses produksi dengan kedudukan yang sejajar. Dalam masyarakat-masyarakat seperti itu, perempuan memiliki kebebasan dan kesetaraan dengan laki-laki. Munculnya kepemilikan pribadi atas alat produksi dan masyarakat klas telah menyingkirkan kaum perempuan dari proses produksi dan melemparkannya kepada pekerjaan-pekerjaan domestik (kerumahtanggaan). Dengan jalan itu, kebebasan perempuan terenggut, dan kesetaraannya dengan laki-laki lenyap. Oleh karena itu, bagi kaum Sosialis, pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk mengakhiri kepemilikan pribadi atas alat produksi dan masyarakat klas. Ya, pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk mewujudkan masyarakat Sosialis.[i]

Kini sampailah kita pada sebuah kesimpulan, bahwa kaum perempuan harus bersatu padu dalam panji-panji perjuangan melawan sistem neoliberal, kapitalisme dan imperialisme. Bersama laki-laki kaum perempuan bahu membahu, bergotong royong, memperjuangkan panji-panji perjuangan pembebasan nasional.

Sudah bukan saatnya, kaum perempuan tunduk dan meringkuk dalam lorong-lorong kelam sejarah. Karena sejarah sudah membuktikan, bahwa tak ada kemerdekaan tanpa perjuangan kaum perempuan. Sejarahpun sudah membuktikan bahwa organisasi gerakan perempuan juga mengambil bagian dalam penggulingan tiran Orde Baru dan bangkitnya Era Reformasi. Sehingga kini saatnya kaum perempuan kembali memperjuangkan hak-haknya memperoleh kesetaraan dan keadilan gender di bidang ekonomi dan politik.

Sudah menjadi kehendak sejarah, bahwa kaum perempuan yang progresif dan revolusioner harus kembali merumuskan format gerakan perempuan, menyiapkan pembangunan organisasi massa perempuan yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan jaman. Sebuah organisasi massa perempuan yang menjawab persoalan bangsa. Bahwa ada keharusan bagi kaum perempuan untuk tidak berdiam diri. Kaum perempuan perlu merumuskan sebuah tindakan kongkrit menentang penindasan dan kemiskinan.

Dalam konteks kekinian, kaum perempuan memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender agar mampu mengentaskan kaum perempuan dari dominasi patriarkhi yang dilanggengkan oleh sistem kapitalisme, imperialisme, dan neoliberalisme.

Untuk mencapai cita-cita mulia tersebut di atas, kami bermaksud menginisiasi dan menyampaikan ide/gagasan tentang rencana pembentukan organisasi massa perempuan yang progresif dan militan.

Adapun konsep tentang organisasi massa perempuan yang menjadi kebutuhan kita sekarang, akan kami detailkan dalam prioritas pembangunan organisasi massa perempuan di bidang politik, organisasi dan ideologi sebagai berikut:

  1. Politik : Organisasi massa perempuan ini harus berperan mengajak kaum perempuan seluas-luasnya berpartisipasi dalam perjuangan pembebasan nasional.

Program turunan:

  • Menentang segala produk Undang-Undang yang diskriminatif terhadap perempuan;
  • Mendorong perempuan untuk mengambil peran aktif di wilayan publik dalam pengertian yang seluas-luasnya;
  • Memajukan kuantitas dan kualitas keterwakilan perempuan dalam politik;
  • Menggagas terselenggaranya Kongres Perempuan Indonesia yang melibatkan sebanyak mungkin kelompok dan individu perempuan;
  • Menjalankan kombinasi taktik aksi massa dengan kerja parlamenter untuk memperjuangkan tuntutan-tuntutannya;
  • Menggalang solidaritas internasional;
  1. Organisasi: Organisasi massa perempuan ini harus membangun seluas-luasnya wadah perempuan untuk meningkatkan kemampuan politik dan ekonomi.

Program turunan:

  • Membangun koperasi sebagai basis untuk kemandirian dan kesejahteraan perempuan;
  • Melakukan advokasi terhadap hak-hak perempuan dan persoalan rakyat;
  • Meningkatkan kemampuan perempuan melalui kursus-kursus dan pelatihan keterampilan.
  1. Ideologi: Organisasi massa perempuan ini harus menyebarkan gagasan-gagasan progresif lewat berbagai cara dan instrumen.

Program turunan:

  • Mengadakan pendidikan dan kursus-kursus politik secara regular dan terorganisir;
  • Membuat terbitan secara regular;
  • Memassifkan alat-alat propaganda (bulletin, pamphlet, sosmed, foto, film (documenter), blog, ..dll.);
  • Mengadakan diskusi-diskusi secara regular terkait isu-isu yang aktual.

 

 


Category: Featured

Tag: